Evaluasi Formatif

 1. Pengertian Evaluasi Formatif

Ada dua jenis evaluasi, yakni evaluasi sumatif dan evaluasi formatif. Tujuan evaluasi sumatif membandingkan efektivitas beberapa jenis produk untuk memilih salah satu yang terbaik dan menyingkirkan yang lainnya, merupakan suatu proses yang menentukan mana produk yang boleh digunakan terus dan mana yang harus dihentikan atau tidak boleh digunakan. Jenis evaluasi ini tidak menghasilkan petunjuk bagi orang yang mengevaluasi tentang bagian mananya dari kurikulum atau program instruksional itu yang harus direvisi. Evaluasi seperti itu tidak pula menghasilkan petunjuk bagaimana cara merevisinya agar kualitasnya lebih baik.

Jenis evaluasi lain, evaluasi formatif, bertujuan untuk menentukan apa yang harus ditingkatkan atau direvisi agar produk tersebut lebih efektif dan efisien.Secara ekstrim, dapat dikatakan betapapun kurang efektif atau sangat efektifnya produk itu, evaluator masih harus mencari apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan efektivitasnya sehingga kualitasnya lebih tinggi daripada sebelumnya. Dalam proses pengembangan suatu produk instruksional, pelaksanaan evaluasi formatif adalah suatu keharusan. Hanya dengan cara itulah pengembang instruksional dapat merasa yakin bahwa sistem instruksional yang ia kembangkan akan efektif dan efisien di lapangan sesungguhnya nanti.

Evaluasi formatif dapat didefinisikan sebagai proses menyediakan dan menggunakan informasi untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan dalam rangka meningkatkan kualitas produk atau program instruksional.

2. Empat Tahap Evaluasi Formatif

            Idealnya, pengembang instruksional melakukan empat tahap evaluasi formatif, yaitu oleh ahli bidang studi di luar tim pengembang instruksional, evaluasi satu-satu (one-to-one evaluation), evaluasi kelompok kecil dan uji coba lapangan.

a. Reviu Oleh Ahli Bidang Studi

Reviu oleh ahli bidang studi di luar pengembang instruksional penting artinya untuk mempermudah pendapat orang lain, sesame ahli dalam bidang studi, khususnya tentang ketepatan isi atau materi produk instruksional tersebut. Di samping itu, dilakukan pula reviu ahli desain fisik dan ahli media lain. Masukan dari para ahli lain ini perlu segera digunakan untuk merevisi produk instruksional tersebut.

Masukan yang diharapkan dari ahli lain adalah:

  • Kebenaran isi atau materi menurut bidang ilmunya dan relevansinya dengan tujuan instruksional;
  • Ketepatan perumusan TIU;
  • Relevansi TIK dengan TIU;
  • Ketepatan perumusan TIK;
  • Relevansi tes dengan tujuan instruksional;
  • Kualitas teknis penulisan tes;
  • Relevansi strategi instruksional dengan tujuan instruksional;
  • Relevansi produk atau bahan instruksional dengan tes dan tujuan instruksioal;
  • Kualitas teknis produk instruksional.

Reviu oleh ahli lain ini dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1. Tim pengembang instruksional mengundang beberapa ahli di luar pengembang instruksional yang terdiri atas:

a) 1-3 orang ahli bidang studi;

b) 1-3 orang ahli pengembnag instruksional lain;

c) 1-3 orang ahli produksi media.

2. Tim menjelaskan proses yang telah dilaksanakan dalam mengembangkan bahan instruksional tersebut  kepada para ahli yang diundang.

3. Meminta komentar tentang kualitas bahan instruksional tersebut dari sudut pandangan keahlian masing-masing. Komentar ini dapat diperoleh dengan salah satu cara sebagai berikut:

a) Memeberikan kuesioner untuk diisi;

b) Wawancara;

c) Diskusi terbuka dengan membahas kualitas bahan instruksional secara bersamaan antara seluruh ahli yang diundang dengan seluruh anggota tim pengembang instruksional.

                      Kegiatan reviu tersebut di atas menuntut keterbukaan setiap anggota tim pengembang intruksional dengan sikap menerima semua komentar walaupun mungkin tidak relevan. Selama kegiatan reviu tersebut setiap anggota tim pengembang hanya dapat meminta kejelasan tentang pendapat ahli lain apabila pendapat tersebut dirasa belum jelas atau dianggap kurang benar. Sikap untuk menolak atau menerimanya harus ditentukan oleh tim setelah selesai kegiatan reviu tersebut.

          Dengan perkataan lain, kesabaran, ketekunan mendengarkan, dan mencatat komentar ahli lain merupakan kunci keberhasilan kegiatan reviu tersebut. Hasil kegiatan reviu tersebut dianalisis dan disimpulkan untuk kemudian digunakan dalam merivisi produk instruksional tersebut.

b. Evaluasi Satu-Satu

Evaluasi satu-satu dilakukan antara pengembang instruksional dengan dua atau tiga mahasiswa secara individual. Mahasiswa yang dipilih adalah yang mempunyai cirri-ciri seperti populasi sasaran. Ketiga mahaiswa tersebut berasal dari mahasiswa yang mempunyai kemampuan sedang, di atas sedang, dan di bawah sedang. Maksud evaluasi ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengurangi kesalahan-kesalahan yang secara nyata terdapat dalam bahan instruksional. Disamping itu evaluasi ini dimaksudkan untuk mendapatkan komentar dari mahasiswa tentang isi pelajaran.

Langkah-langkah dalam melaksanakan evaluasi satu-satu adalah sebagai berikut:

  1. Pengembang instruksional menjelaskan maksud evaluasi tersebut kepada mahasiswa, yaitu mendapatkan komentarnya terhadap bahan-bahan instruksional  yang baru saja selesai dikembangkan.
  2. Pengembang instruksional mendorong mahasiswa untuk mengikuti kegiatan instruksional sebaik-baiknya dalam waktu yang telah ditentukan. Bila yang dievaluasi berupa bahan belajar mandiri atau PBS, pengembang instruksional mengajak mahasiswa membaca bahan belajar tersebut bersamanya dan mendiskusikan pengertiannya.
  3. Pada akhir pelajaran mahasiswa diberi tes.
  4. Pengembang instruksional mendorong mahasiswa untuk memberikan komentar dengan leluasa tentang kegiatan instruksional yang diikutinya, terutama isi pelajaran atau bahan instruksional dan tes. Keterampilan pengembang instruksional dalam berinteraksi atau wawancara dengan mahasiswa akan menentukan kualitas informasi yang diperolehnya. Pengembang instruksional harus menempatkan diri dan bersikap untuk berusaha memahami komentar mahasiswa tentang bahan instruksional yang telah diproduksinya tanpa merasa tersinggung, apalagi mencoba mempertahankannya. Tanpa sikap positif seperti itu usaha evaluasi akan sia-sia.
  5. Pengembang instruksional mencatat komentar mahasiswa dan menyimpulkan implikasinya terhadap perbaikan kegiatan instruksional secara keseluruhan termasuk terhadap bahan instruksional.

Hasil evaluasi satu-satu ini langsung digunakan untuk merevisi kegiatan instruksional termasuk bahan instruksional.

c. Evaluasi Kelompok Kecil

Setelah direvisi berdasarkan masukan evaluasi satu-satu, produk instruksional tersebut dievaluasi lagi dengan menggunakan sekelompok kecil mahasiswa yang terdiri atas 8-12 orang. Kelompok kecil mahasiswa ini harus representative untuk mewakili populasi sasaran yang sebenarnya. Diantara mereka tidak termasuk tiga orang mahasiswa yang telah ikut dalam evaluasi satu-satu. Maksud evaluasi kelompok kecil ini adalah mengidentifikasi kekurangan kegiatan instruksional setelah direvisi berdasarkan evaluasi satu-satu. Masukan yang diharapkan bukan saja tentang bahan instruksional, melainkan juga proses instruksional.

Langkah-langkah yang harus ditempuh pengembang instruksional adalah:

  1. Mengumpulkan mahasiswa yang menjadi sampel di suatu ruangan dan menjelaskan maksud evaluasi ini, yaitu untuk mendapatkan umpan balik dalam rangka merevisi produk instruksional tersebut.
  2. Menjelaskan kegiatan instruksional yang akan dilakukan dan mendorong mahasiswa untuk memberi  komentar dengan leluasa setiap saat, selama kegiatan tersebut berlangsung, tentang kualitas produk instruksional, baik yang menyangkut bahan instruksional maupun proses instruksionalnya.
  3. Melaksanakan kegiatan instruksional yang diproduksi dan telah direvisi berdasarkan hasil reviu dan evaluasi satu-satu.
  4. Mencatat komentar mahasiswa terhadap proses dan bahan instruksional termasuk komentar terhadap tes yang digunakan.
  5. Melakukan interviu dan mengajukan kuesioner kepada beberapa mahasiswa untuk mendapatkan informasi lebih jauh tentang:
    1. Seberapa mudah mahasiswa memahami pelajaran yang baru lalu?
    2. Apakah kegiatan instruksional itu menarik dan sistematis?
    3. Bagian mana dari pelajaran tersebut yang sulit dipahami dan mengapa?
    4. Butir tes yang mana yang tidak relevan dengan materi yang disajikan?

Bila informasi yang diperoleh memberikan petunjuk tentang sangat banyaknya kekurangan produk instruksional yang dievaluasi, pengembang instruksional tidak boleh kecewa atau cenderung membuang produk tersebut. Evaluasi formatif tersebut memang bermaksud untuk mendapatkan informasi tentang kelemahan produk instruksional, bukan untuk mendapatkan informasi yang mengenakkan telinga saja atau sengaja hanya mencari kebaikannya. Sebaliknya, pengembang instruksional harus bergembira mendapatkan informasi tentang kelemahan produk instruksionalnya, karena ia mempunyai dasar untuk memperbaikinya. Pengembang instruksional harus sadar benar bahwa produk instruksional yang terbaik pun masih dapat ditingkatkan kualitasnya.

6. Menggunakan hasil evaluasi kelompok kecil untuk merevisi produk instrukional.

d. Uji Coba Lapangan

Setelah direvisi berdasarkan masukan evaluasi kelompok kecil, produk instruksional tersebut diujicobakan di lapangan sebagai tahap keempat atau tahap akhir dalam evaluasi formatif. Maksud uji coba lapangan ini adalah untuk mengidentifikasi kekurangan produk instruksional tersebut bila digunakan di dalam kondisi yang mirip dengan kondisi pada saat produk tersebut digunakan dalam dunia sebenarnya. Produk itu sendiri, lingkungan pelaksanaan, dan pelaksana uji coba harus dibuat semirip mungkin dengan keadaan pada waktu digunakan oleh populasi sasaran nanti. Inilah salah satu letak perbedaan secara mendasar antara uji coba lapangan ini dan tahap evaluasi formatif sebelumnya.

Jumlah mahasiswa yang menjadi sampel dalam uji coba lapangan ini lebih besar dari jumlah mahasiswa yang berpartisipasi dalam evaluasi kelompok kecil. Jumlah sekitar 15-30 orang mahasiswa sudah dianggap cukup sepanjang telah mempunyai cirri yang sama atau mirip dengan populasi sasaran.

Uji coba lapangan ini dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:

  1. Menentukan sampel yang akan digunakan sebanyak 15-30 orang mahasiswa.
  2. Mempersiapkan lingkungan, fasilitas, dan alat-alat yang dibutuhkan sesuai dengan strategi instruksional dan bentuk kegiatan instruksional yang telah ditentukan, yaitu belajar mandiri, pengajaran konvensional, atau PBS.
  3. Melaksanakan kegiatan instruksional sesuai dengan bahan instruksional dan bentuk kegiatan instruksional.
  4. Mengumpulkan data tentang kualitas proses instruksional dan bahan instruksional termasuk bahan ajar, pedoman mahasiswa, dan tes. Pengumpulan data ini dapat dilakukan dengan memberikan kuesioner, interviu, dengan mahasiswa atau kombinasi keduanya. Di samping itu, pengembang instruksional mengumpulkan data dengan mengobservasi proses kegiatan mahasiswa dan keadaan lingkungan kegiatan instruksional tersebut untuk mendapatkan informasi tentang kekurangsesuaiannya dengan strategi intruksional yang telah diterapkan.
  5. Menyelenggarakan tes awal dan tes akhir untuk mengetahui efektivitas kegiatan instruksional tersebut. Hasil tes ini tidak digunakan untuk menentukan terus digunakan atau dibatalkannya penggunaan produk instruksional tersebut, tetapi untuk mengetahui seberapa besar lagi usaha yang harus dilakukan pengembang instruksional untuk meningkatkan kualitasnya.

3. Komponen yang Perlu Diperhatikan dalam Merencanakan Evaluasi Formatif

          Pelaksanaan suatu evaluasi harus dimulai dan didasarkan kepada rencana yang disusun sebelumnya. Ada tujuh komponen penting yang harus diperhatikan oleh pengembang instruksional, yaitu:

a. Maksud evaluasi formatif

Sejak awal perencanaan, maksud evaluasi yang akan dilakukan harus jelas. Hasilnya akan digunakan merevisi program atau produk instruksional bukan untuk menentukan digunakan tau tidak digunakannya produk tersebut.

Maksud ini harus dijadikan dasar dalam menyimpulkan hasil evaluasi nanti. Misalnya, apabila maksud evaluasi tersebut semula digunakan untuk merevisi produk instruksional, tetapi kesimpulan hasilnya digunakan untuk menetapkan bahwa produk tersebut tidak jadi digunakan karena banyak kelemahannya, kesimpulan yang seperti itu tidak tepat. Kesimpulannya menyimpang dari maksud evaluasi tersebut. Kekeliruan seperti ini bukan hanyamungkin terjadi pada pengembang instruksional yang masih muda, tetapi juga yang sudah senior.

b. Siapa yang akan menggunakan hasil evaluasi tersebut?

Dalam perencanaan harus ditetapkan siapa yang akan menggunakan hasil evaluasi itu. Dalam proses yang kita bahas selama ini orang tersebut adalah tim pengembang instruksional. Karena itu, hasil evaluasi harus dilaporkan kepada tim tersebut. Bila hasil evaluasi tersebut diserahkan kepada orang lain, misalnya para guru sebagai calon pemakai, hasil evaluasi formatif itu akan ditafsirkan lain, yaitu rendahnya kualitas produk instruksional tersebut. Dari jauh hari calon pemakai tersebut tentu menolak untuk menggunakannya.

c. Apa informasi yang akan dikumpulkan?

Perumusan informasi yang perlu dikumpulkan berhubungan erat dengan maksud evaluasi. Dalam proses evaluasi yang akan dilakukan, yaitu evaluasi formatif, dibutuhkan informasi tentang kekurangan produk instruksional.

Bila informasi yang dikumpulkan tidak sesuai dengan tujuan, misalnya informasi tentang efektivitasnya bila dibandingkan dengan efektivitas produk instruksional lain, maka hasil evaluasi tersebut tidak dapat memberikan petunjuk tentang komponen apa dari produk intruksional tersebut yang harus direvisi. Karena itu menetapkan jenis informasi yang relevan dengan maksud evaluasi sangat penting artinya dalam evaluasi. Untuk evaluasi formatif terhadap produk instruksional, pengembang instruksional perlu mengumpulkan berbagai informasi melalui reviu oleh para ahli diluar pengembang instruksional, evaluasi satu-satu, evaluasi kelompok kecil dan uji coba lapangan.

d. Sumber-sumber apa yang diperlukan?

1. fasilitas, alat-alat dan waktu

2. Tenaga pelaksana evaluasi

3. Instrumen evaluasi seperti kuesioner, pedoman interviu, checklist, tes, skala sikap dan sebagainya.

4. Responden

5. Biaya

e.  Bagaimana, kapan dan di mana data dikumpulkan? Siapa yang melaksanakan pengumpulan data dari sumber informasi yang telah ditentukan?

f. Bagaimana, kapan dan siapa yang melaksanakan analisis data?

g. Bagaimana bentuk laporannya? Perlukah laporan lisan di samping laporan tertulis? Laporan tersebut harus disampaikan kepada tim pengembang instruksional.

Ketujuh komponen di atas merupakan komponen pokok yang perlu mendapat perhatian dalam evaluasi, agar hasilnya benar-benar bermanfaat dan sesuai dengan maksudnya.

4. Merevisi Produk Instruksional

Pelaksanaan evaluasi formatif belum menjamin terjadinya peningkatan kualitas produk instruksional, bila rekomendasi yang dihasilkan evaluasi tidak digunakan untuk merevisi produk instruksional yang dievaluasi tersebut.

Revisi yang dihasilkan dapat dikelompokkan dalam tiga bidang besar:

a. Isi dari produk instruksional, baik yang terdapat dalam bahan instruksional maupun yang diuraikan oleh pengajar (bila bukan bahan belajar mandiri).

b. Kegiatan instruksional yang meliputi prosedur penggunaan bahan instruksional dan penyajian atau presentasi.

c. Kualitas fisik bahan instruksional.

            Revisi terhadap produk instruksional dilakukan dalam tiga bidang tersebut di atas. Hasil revisi tersebut berbentuk produk instruksional baru. Bila perubahan-perubahan yang dilakukan untuk menghasilkan produk baru tersebut sangat besar dan mendasar, evaluasi formatif yang kedua perlu dilakukan.Tetapi, bila perubahan itu tidak terlalu besar dan tidak mendasar, produk baru itu siap dipakai dilapangan sebenarnya. Produk baru itu disebut sistem instruksional.

Berikut ini dikemukakan bagaimana revisi itu dilakukan pada setiap tahap evaluasi.

1. Hasil reviu ahli bidang studi digunakan lebih awal dari setiap tahap evaluasi yang lain, yaitu evaluasi satu-satu, kelompok kecil, atau uji coba lapangan.

2. Hasil evaluasi satu-satu merupakan masukan yang berharga bagi pengembang instruksional, terutama komentar dan kesulitan mahasiswa memahami setiap bagian dari bahan instruksional dan strategi instruksional. Ini berarti bahwa masukan dari hasil evaluasi satu-satu dan para ahli bidang studi banyak menyangkut isi produk instruksional.

Pengembang instruksional melakukan perbaikan langsung pada bagian yang dianggap sulit dipahami oleh mahasiswa, sulit dibaca atau menimbulkan salah pengertian. Komentar para ahli lain untuk hal ini merupakan data yang memperkuat perlunya revisi tetapi tidak dapat menolaknya. JUmlah mahasiswa dalam evaluasi satu-satu ini sangat kecil, tetapi kontribusi mereka sangat besar dalam memperbaiki tingkat keterbacaan dan kemudahan memahami produk instruksional yang dievaluasi.

3. Hasil evaluasi kelompok kecil digunakan untuk:

a. Manganalisis kualitas setiap butir tes yang meliputi:

1)  Analisis alternative jawaban bila digunakan tes pilihan berganda;

2) Komentar mahasiswa tentang kejelasan maksud pertanyaan dalam butir tes tersebut.

b. Menganalisis kenaikan skor mahasiswa untuk butir-butir tes yang mengukur setiap perilaku dalam TIK dengan cara membandingkan skor tes awal dan skor tes akhir.

Bila tidak ada kenaikan yang berarti sedangkan hasil tes awal dan tes akhir relatif rendah, bahan instruksional dan kegiatan instruksional yang berhubungan dengan TIK tersebut perlu diteliti kembali dengan seksama dan dicari kelemahannya. Bila kenaikan dari hasil tes awal dan akhir untuk TIK tersebut tidak berarti sedangkan keduanya menunjukkan hasil yang tinggi, isi pelajaran yang berhubungan dengan TIK tersebut perlu dipertimbangkan untuk dihilangkan karena dari semula mahasiswa telah menguasainya. Keputusan untuk menghilangkannya sebaiknya menunggu hasil uji coba. Bila hasil uji coba tersebut konsisten dengan hasil evaluasi kelompok kecil bagian tersebut tidak perlu diragukan lagi, perlu dihilangkan atau dipersingkat. Dengan mempersingkat tersebut berarti materi pelajaran keseluruhan tetap utuh.

c. Menganalisis hasil tes akhir dari dua TIK yang mempunyai struktur perilaku yang hierarkial. Seharusnya skor rata-rata mahasiswa untuk kedua perilaku tersebut mempunyai korelasi yang signifikan. Bila ternyata korelasinya rendah, perlu diteliti hal-hal sebagai berikut:

1) Kualitas butir tes pada setiap perilaku tersebut

2)  Kualitas bahan instruksional dan strategi instruksional yang berhubungan dengan kedua perilaku tersebut, terutama komentar mahasiswa dan para ahli bidang studi di luar pengembang instruksional.

d. Menganalisis hasil tes akhir dari beberapa TIK yang mempunyai struktur perilaku procedural terutama kawasan psikomotor. Bila skor mahasiswa dalam perilaku tersebut rendah, yang terutama diteliti kembali adalah kemungkinan penambahan jumlah latihan atau praktik yang dilakukan mahasiswa. Bila jumlah latihan cukup, perlu diteliti kualitas alat-alat yang digunakan.

e. Menganalisis komentar mahaiswa tentang proses instruksional terutama yang menyangkut metode dan media instruksional.

4. Hasil uji coba lapangan digunakan untuk merevisi produk instruksional dengan menggunaka prosedur yang sama dengan penggunaan hasil evaluai kelompok kecil. Hasiluji coba lapangan ini adalah yang paling mirip dengan keadaan sesungguhnya karena dilakukan dalam lingkungan yang menyerupai lingkungan yang sebenarnya. Karena masukan dari uji coba ini akan menggambarkan reaksi populasi sasaran kepada produk instruksional. Bila masukan dari evaluasi satu-satu dan kelompok kecil terutama berisi hal-hal pokok, masukan dari uji coba lapangan inimerupakan masukan yang menyeluruh dan terperinci tentangkualitas bahan dan strategi instruksional yang diujicobakan.

Analisis hasil uji coba lapangan meliputi:

a. Membandingkan hasil tes awal dan tes akhir mahasiswa untuk seluruh butir tes. Cara ini dimaksudkan untuk melihat efektivitas seluruh produk instruksional. Pengetahuan akan tingkat efektivitas ini bukan untuk memutuskan digunakan atau tidak jadi digunakan produk tersebut melainkan untuk menetukan seberapa keras usaha yang masih harus dilakukan untuk meningkatkan kualitasnya dikemudian hari. Bila kenaikan skor mahasiswa dari tes awal ke tes akhir masih rendah, pengembang instruksional dapat menggunakannya sebagai petunjuk bahwa usaha meningkatkan kualitas produk instruksional tersebut dikemudian hari masih harus dilakukan lebih keras.

b. membandingkan hasil tes awal dan hasil tes akhir mahasiswa untuk kelompok butir tes yang mengacu kepada setiap TIK. Hasil ini diperkuat dengan komentar mahasiswa dan ahli bidang studi di luar pengembang instruksional akan memberi petunjuk untuk melakukan revisi pada bahan dan strategi instruksional yang mengacu kepada TIK tersebut.

c. Menafisirkan komentar mahasiswa tentang kejelasan dan kualitas fisik bahan belajar serta tentang sikap mereka terhadap kegiatan instruksional yang diikutinya merupakan masukan yang harus digunakan untuk memperbaiki produk instruksional.

d. Menafsirkan komentar mahasiswa terhadap proses instruksional, terutama metode dan media yang digunakan serta hasil observasi pengembang instruksional terhadap kegiatan mahasiswa dan fasilitas yang digunakan selama proses tersebut.

1 Komentar (+add yours?)

  1. diki
    Mei 10, 2012 @ 13:14:27

    thanks. it’s useful to be reference in my presentation.. GBU

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 848,625 hits
Alesha lagi trsenyum..
%d blogger menyukai ini: