MASALAH GELAR AKADEMIK/JABATAN AKADEMIK

PENDAHULUAN

 

  1. A.          Latar Belakang

Pasal 31 ayat (1) UUD RI 1945 menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Di dalam pasal ini ditekankan bahwa memperoleh pendidikan merupakan hak asasi manusia ( Tilaar, 2004:119 ).

Jalur resmi seperti sekolah lazim memberikan ijazah dan gelar akademik sebagai pertanda bahwa seorang murid termasuk mahasiswa telah menyelesaikan studinya sesuai dengan persyaratan yang telah dipenuhi (Kadiman,2009 :1). Menurut Kepmendiknas no. 178 /U / 2001, gelar akademik adalah gelar yang diberikan kepada lulusan perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik.

Gelar akademik atau gelar akademis adalah gelar yang diberikan kepada lulusan pendidikan akademik bidang studi tertentu dari suatu perguruan tinggi. Gelar akademik kadangkala disebut dengan istilahnya dalam Bahasa Belanda yaitu titel (Wikipedia,2011 :1). Dalam Kepmendiknas no. 178 /U / 2001, lulusan perguruan tinggi dapat memperoleh gelar akademik atau sebutan profesional sesuai dengan kelompok bidang ilmu dari perguruan tinggi yang bersangkutan.

Menurut situs http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori menyatakan bahwa gelar akademik adalah gelar yang diberikan kepada lulusan pendidikan akademik bidang studi tertentu dari suatu perguruan tinggi. Gelar akademik kadangkala disebut dengan istilahnya dalam bahasa Belanda yaitu titel (dari bahasa Latin titulus). Gelar akademik terdiri dari sarjana (bachelor), magister (master), dan doktor (doctor). Sudah barang tentu, bahwasanya tatkala seseorang telah menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi maka sudah selayaknya yang bersangkutan menyandang gelar akademik sesuai dengan bidang keilmuannya.

Pendidikan tinggi seperti yang tertuang pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 19 menyatakan (1) Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi (2) Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem terbuka.

Akan tetapi, terkadang terdapat kekeliruan di kalangan masyarakat apa dan bagaimana gelar akademik itu.   Memang hal ini, dimahfumi oleh kita bahwa betapa banyak gelar akademik yang ada sehingga sulit untuk diketahui semuanya.   Itu pun, hanya segelintir orang saja yang punya keinginan dan pengetahuan tentang gelar akademik.   Walaupun tak bisa kita pungkiri bahwa gelar akademik bukanlah segala-galanya, maksudnya kita berharap semakin tinggi pendidikan kita maka semakin dewasa juga pola pikir dan tindakan kita.   Bak kata sebuah pepatah “ Lihatlah Padi yang sedang berbuah, semakin berisi buahnya semakin ke bawah.   Dengan kata lain orang yang berpendidikan itu adalah orang yang dapat memanusiakan manusia.

Di Indonesia penggunaan gelar mengiringi nama sudah menjadi kebiasaan. Umumnya gelar dibagi tiga yaitu : gelar akademik, yang diperoleh dari pendidikan formal, gelar professional yang tak terhitung variasinya, contoh di bidang teknologi informasi ada gelar Cisco, Unix Sun Colaris, Microsoft, Novell dan hardware PC A+, serta gelar kehormatan, sebagai contoh Gus, Haji, Raden, ustadz, Kyai, Syaikh, Tengku, Ajengan dan lain-lain (Faishol dalam Indriani, 2010 :4).

  Lalu bagaimanakah penulisan gelar akademik tersebut ? seperti yang termaktub dalam  Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 pasal 21 ayat 4 berbunyi penggunaan gelar akademik, profesi, atau vokasi lulusan perguruan tinggi hanya dibenarkan dalam bentuk dan singkatan yang diterima dari perguruan tinggi yang bersangkutan.   Akan tetapi sering terjadi kesalahpahaman dalam penulisan dan juga penggunaan suatu gelar akademik.  Berdasarkan hal inilah penulis ingin mengetahui masalah gelar akademik/jabatan akademik di SMA Negeri 4 Lahat.

  1. B.           Rumusan Masalah
    1. Apakah penulisan gelar akademik di SMA Negeri 4 Lahat sesuai dengan ejaan yang disempurnakan ?
    2. Apakah gelar akademik yang disandang oleh guru SMA Negeri 4 Lahat sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya ?
    3. Bagaimanakah peningkatan kualifikasi guru SMA Negeri 4 Lahat dari S1 ke S2 ?

  1. C.          Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui :

  1. penulisan gelar akademik  SMA Negeri 4 lahat sesuai dengan ejaan yang disempurnakan.
  2. gelar akademik yang disandang guru SMA Negeri 4 Lahat sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya.
  3. upaya peningkatan kualifikasi guru SMA Negeri 4 Lahat dari S1 ke S2.

  1. D.          Manfaat

Dengan penulisan makalah ini, diharapkan dapat menambah wawasan bagi pembaca tentang penulisan gelar akademik.

PEMBAHASAN

 

  1. Penulisan gelar akademik di SMA Negeri 4 Lahat ( sumber : Tata Usaha SMA Negeri 4 Lahat ) seperti yang tertera pada tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Nama Guru dan Karyawan SMA Negeri 4 lahat Tahun Pelajaran 2011/2012

No

Nama

Pendi-

 

Pendidi

Bidang

dikan

Jurusan

kan yang

Studi Yang

 

 

sedang diikuti

Diajarkan

1

Drs. Syahfiral Syamsuar

S. 1

B. Inggris

B. Inggris

 

NIP 196708211992031004

 

 

 

 

2

Drs. Bernard, MM

S.2

Manajemen

Matematika

 

NIP 195805231986031004

 

 

3

Drs. Iskandar, M.Si

S.2

Ek Manajemen

Fisika

 

NIP 196211061990111001

 

 

4

Drs. Sutrisyanto

S.1

Fil & Sos/BK

Bimb. Konseling

195910291991031003

 

 

5

Drs. Susilotomo

S.1

Biologi

Biologi

196303281990021002

 

 

6

Nilawati, S. Pd

S.1

Bhs Inggris

Bahasa Inggris

196306121987032009

 

 

7

Drs.Asnan

S.1

Penjaskes

Penjaskes

196301071994121001

 

 

8

Wijayanto,S.Pd

S.1

Kimia

Kimia

196903121992011001

 

 

9

Aminnudin,S.Pd

S.1

Matematika

S.2

Matematika

197011081993021001

 

 

10

Sumarji,S.Ag

S.1

P. Agama Islam

P. Agama Islam

196803011997031005

 

 

11

Evi Yosita Silva,M.Pd

S.1

Matematika

S.2

Matematika

197209281998022003

 

 

12

Sugeng Widada

S.1

P. Sejarah

S.2

SNSU

196805061994031008

 

 

13

Baslini, S.Pd

S.1

Bhs. Inggris

S.2

Bahasa Inggris

197207121999031004

 

 

14

Drs. Nurcahyo

S.1

P. Ekonomi

Ekonomi

196806231995121002

 

 

15

Syafe’I, S. Ag

 

 

197105251999031006

S.1

Pend. Agama Islam

Pend. Agama Islam

B. Arab

16

Sicha Iramala Dewi, S.Pd

 

 

198206132006042007

S.1

Bhs. Indo

S.2

B. Indonesia

17

Edi Iskandar,S.Pd

 

 

197710102006041020

S.1

P. Fisika

S.2

Fisika

18

Aprizal Efendi,S.Pd

 

 

197704112007011006

S.1

P. Biologi

S.2

Biologi

19

Rahmad Alamsyah, S. Pd

 

Muatan Lokal

197609102007011008

S.1

P. PPKn

PPKn

20

Desismi Hartini,S.pd

 

 

197812162008012003

S.1

Bhs. Indo

B. Indonesia

21

Laila G. Qadarwati, S. Pd

 

 

198505162009032001

S.1

P. Geografi

Geografi

22

Kristina Noviyanti H., S.Kom

 

Muatan Lokal

197811022009032001

S.1

Komputer

TIK

23

Dian Ardiana, S.Pd.I

 

 

198303232009032001

S.1

P. B.Arab

Bahasa Arab

24

Ardiana, S. Pd

 

 

198308122006042006

S.1

P. Matematika

Matematika

25

Sri Handayani, S. Si

 

 

197906052009032002

S.1

Kimia/Akta IV

Kimia

26

Rolly Afrianti, S.Si

 

Muatan Lokal

198204302009032002

S.1

Biologi/Akta IV

Biologi

27

Marta Beni Widianti, S. Si

 

Muatan Lokal

197701212009032001

S.1

Kimia/Akta IV

Kimia

28

Celly Lilianti, S.Pd

 

Muatan Lokal

GTT

S.1

P. B Inggris

Bahasa Inggris

29

Mardalena, S.Si

 

 

GTT

S.1

P. Fisika

Fisika

30

Satri Gus Endang, S.Pd

 

 

GTT

S.1

P Sejarah

Sosiologi

31

Yanita Pasmasari, S. Pd

 

 

GTT

S.1

P Ekonomi

Ekonomi

32

Natalia Sagita, S.Pd

 

 

GTT

S.1

P. B. Inggris

Bahasa inggris

33

Andrias Pratama, S.Pd

 

 

GTT

S.1

P. Olahraga

Penjaskes

34

Yuli Novi Astuti, S.Pd

S. 1

P. Bahasa Sastra

Pend. Seni

GTT

& Seni Indonesia

 

35

Evi Haryani, S. Pd

S. 1

P. Bahasa Sastra

B. Indonesia

GTT

& Seni Indonesia

 

36

Dwi Yusti Nofiana, S. Pd

 

 
GTT

S. 1

P. Olahraga

Pend. Olahraga

37

 Anita  Ekawati, S. Pd

 

 

GTT

S. 1

P. Fisika

Pend. Fisika

38

Sri Emilia Purnama Sari, S. Pd

 

 
GTT

S.1

P. Kewarganegaraan

Pend. Kewarganegaraan

39

Mutiara Meica, S. Pd

 

 
GTT

S. 1

P. Kewarganegaraan

Sosiologi

40

Gunadi Surani Putra, S. Pd

 

 
GTT

S. 1

P. Seni

Seni Musik

41

Melia Handayani, S. Pd

 

 
GTT

S. 1

P. Matematika

Matematika

42

Ririn Martuti, S. Pd

 

 
GTT

S. 1

P. Bahasa Sastra

B. Indonesia

43

Meditha Rhoman

 

 
GTT

S. 1

D.1 Komputer

TIK

44

Jajang Rusmayadi, S. Sn

 

 
GTT

S. 1

P. Seni

Pend. Seni

 

 

Berdasarkan data pada tabel 1 di atas, terdapat kekeliruan penulisan gelar akademik  yaitu gelar akademik yang berada di belakang nama.   Kalau kita cermati, semua gelar akademik setelah nama kurang memenuhi syarat EYD. Apa kekurangannya ?   kekurangannya adalah

1) Tidak ada tanda titik setelah Singkatan gelar Akademik Misal   Rahmad Alamsyah, S.Pd Seharusnya Rahmad Alamsyah, S.Pd.

 2) Huruf P pada gelar sarjana pendidikan TIDAK Ditulis Besar ( Kapital ), tetapi  tertulis Desismi Hartini, S.pd seharusnya Desismi Hartini, S.Pd.

3) Tidak ditulis gelar akademik salah satu karyawan yaitu atas nama Meditha Rhoman SEHARUSNYA Meditha Rhoman, A.P.

 Sehingga dapat kita ketahui bahwa pengetahuan dan pemahaman karyawan tentang penulisan gelar akademik masih perlu ditingkatkan.   Hal ini berpedoman pada tulisan Warsiman ( 2010 ) yang  menyatakan bahwa kendati hanya persoalan kecil, tetapi kebanyakan orang tidak memahami penulisan gelar yang benar. Penulisan gelar sejatinya tidaklah sesulit yang dibayangkan, tetapi juga tidak segampang yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang. Berdasarkan aturan kebahasaan, penulisan gelar termasuk kategori pemahaman tentang singkatan. Singkatan adalah kependekkan yang berupa huruf atau gabungan huruf, baik dilafalkan huruf demi huruf maupun dilafalkan sesuai dengan bentuk lengkapnya.  Selain itu, menurut situs http:// id.wikisource.org/…/Pedoman_Umum_Ejaan tentang Permendiknas No.46 Tahun 2009 buku pedoman umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD), penulisan gelar juga   secara intens disinggung, bahkan disertai beberapa contoh penulisan yang benar. Namun demikian, masyarakat masih saja banyak yang belum memahami dengan baik teknik penulisan gelar yang benar.

Sekarang, marilah kita analisis tentang penulisan gelar ini, agar kita tidak lagi menemui kesulitan di kemudian hari. Jika dianalisis kata per kata, penulisan gelar dapat dinalar melalui teori singkatan. Sebagai misal, penulisan gelar sarjana pendidikan, yang ditulis benar, Sarjana Pendidikan (S.Pd.), dan ditulis di belakang nama penyandang gelar. Huruf  “S“ pada kata sarjana, ditulis dengan huruf besar dan diakhiri dengan tanda titik, merupakan satu kata. Kemudian, huruf  “P” ditulis dengan huruf besar, tetapi huruf  “D”  ditulis dengan huruf kecil dan diakhiri dengan tanda titik. Huruf  “D”  ditulis dengan huruf kecil karena posisinya sebagai bagian dari rangkaian satu kata dengan huruf “P” yang merupakan kepanjangan dari kata “pendidikan”. Demikian pula singkatan-singkatan gelar lain yang sejenis dengan contoh tersebut, juga akan mengalami proses kebahasaan yang sama.

Lain halnya dengan singkatan pada gelar yang tanpa menyertakan huruf peluncur sebagai bagian dari rangkaian satu kata. Sebagai misal, penulisan gelar sarjana hukum, sarjana ekonomi, dan sarjana pertanian. Jika disingkat, ketiga contoh gelar tersebut hanya terdiri dari huruf awal, dan tanpa menyertakan huruf peluncur yang merupakan bagian dari rangkaian kata, sehingga penulisannya pun terdiri atas huruf per huruf serta masing-masing ditandai dengan tanda baca titik. Dengan demikian, penulisan gelar sarjana hukum, ditulis di belakang nama penyandang gelar dengan singkatan: S.H., sarjana ekonomi ditulis S.E., dan sarjana  pertanian ditulis S.P. Penulisan-penulisan gelar lain yang sejenis dengan contoh tersebut, dan yang hanya terdiri dari dua huruf atau lebih tanpa disertai dengan huruf peluncur sebagai bagian dari rangkaian kata, harus mengikuti pola penulisan tersebut.

Berikut ini contoh-contoh penulisan gelar yang benar tertera pada tabel 2.

Tabel 2. Gelar Akademik dalam Negeri

No.

 Gelar Akademik Dalam  Negeri

Gelar sarjana

Gelar Magister

1

S.Ag. (Sarjana Agama) M.Ag. (Magister Agama)

2

S.Pd. (Sarjana Pendidikan) M.Pd. (Magister Pendidikan)

3

S.Si.  (Sarjana Sains) M.Si. (Magister Sains)

4

S.Psi. (Sarjana Psikologi) M.Psi. (Magister Psikologi)

5

S.Hum. (Sarjana Humaniora) M.Hum. (Magister Humaniora)

6

S.Kom. (Sarjana Komputer) M.Kom. (Magister Komputer)

7

S.Sn. (Sarjana Seni) M.Sn. (Magister Seni)

8

S.Pt. (Sarjana Peternakan) M.T. (Magister Teknik)

9

S.Ked. (Sarjana Kedokteran) M.H. (Magister Hukum)

10

S.Th.I. (Sarjana Theologi Islam) M.M. (Magister Manajemen)

11

S.Kes. (Sarjana Kesehatan) M.Kes. (Magister Kesehatan)

12

S.Sos. (Sarjana Sosial) M.P. (Magister Pertanian)

13

S.Kar. (Sarjana Karawitan) M.Fhil. (Magister Fhilsafat)

14

S.Fhil. (Sarjana Fhilsafat) M.E. (Magister Ekonomi)

15

S.T. (Sarjana Teknik) M.H.I. (Magister Hukum Islam)

16

S.P. (Sarjana Pertanian) M.Fil.I. (Magister Filsafat Islam)

17

S.S. (Sarjana Sastra) M.E.I. (Magister Ekonomi Islam)

18

S.H. (Sarjana Hukum) M.Pd.I. (Magister Pendidikan Islam), dsb.

19

S.E. (Sarjana Ekonomi)  

20

S.Th.K. (Sarjana Theologi Kristen)               

21

S.I.P. (Sarjana Ilmu Politik)  

22

S.K.M. (Sarjana Kesehatan Masyarakat)  

23

S.H.I. (Sarjana Hukum Islam)  

24

S.Sos.I. (Sarjana Sosial Islam)  

25

S.Fil.I. (Sarjana Filsafat Islam)  

26

S.Pd.I. (Sarjana Pendidikan Islam), dsb.  

Tabel 3. Gelar Akademik Luar Negeri

No.

 Gelar Luar Negeri

Gelar sarjana muda

Gelar Master

1

B.A. (Bechelor of Arts) M.A. (Master of Arts)

2

B.Sc. (Bechelor of Science) M.Sc. (Master of Science)

3

B.Ag. (Bechelor of Agriculture) M.Ed. (Master of Education)

4

B.E. (Bechelor of Education) M.Litt. (Master of Literature)

5

B.D. (Bechleor of Divinity) M.Lib. (Master of Library)

6

B.Litt. (Bechelor of Literature) M.Arch. (Master of Architecture)

7

B.M. (Bechelor of Medicine) M.Mus. (Master of Music)

8

B.Arch. (Bechelor of Architrcture), dsb. M.Nurs. (Master of Nursing)

9

  M.Th. (Master of  Theology)

10

  M.Eng. (Master of Engineering)

11

  M.B.A. (Master of Business Administration)

12

  M.F. (Master of Forestry)

13

  M.F.A. (Master of Fine Arts)

14

  M.R.E. (Master of Religious Ediucation)

15

  M.S. (Mater of Science)

16

  M.P.H. (Master of Public Health), dsb.

 

Gelar Doktor Dalam Negeri

Penulisan gelar doktor dalam negeri pun sering tidak dipahami dengan benar oleh kebanyakan orang, padahal jika kita mampu menganalisis, tidaklah sulit untuk dapat menemukan jawabannya.

Penulisan gelar doktor dalam negeri sama dengan penulisan gelar-gelar yang lain. Karena huruf  “D” dan “R” merupakan rangkaian satu kata, maka penulisan gelar doktor yang benar adalah: Dr. (Doktor), dan ditulis di depan nama penyandang gelar. Huruf  “D” ditulis dengan huruf besar ( kapital ), dan huruf “R” ditulis dengan huruf kecil, dan diakhiri dengan tanda titik pula.

Selain itu, di Indonesia juga memberlakukan sebutan profesional untuk program diploma. Aturan main penulisan sebutan profesional dalam negeri untuk program diploma ditulis di belakang nama penyandang sebutan profesional tersebut. Perhatikan beberapa sebutan profesional program diploma dalam negeri sebagai berikut.

Program diploma satu (D1) sebutan profesional ahli pratama, disingkat (A.P.);

Program diploma dua (D2) sebutan profesional ahli muda, disingkat (A.Ma.);

Program diploma tiga (D3) sebutan profesional ahli madya, disingkat (A.Md.); dan

Program diploma empat (D4) sebutan profesional ahli, disingkat (A.). Kemudian menurut Kepmendiknas No.178 Tahun 2001 juga menyebutkan program diploma empat adalah Sarjana Sains Terapan yang disingkat menjadi S.S.T.

Akhir-akhir ini sebutan profesional untuk program diploma, sebagaimana yang tertera itu, cenderung diikuti oleh ilmu keahlian yang dimiliki. Sebagai misal, sebutan profesional untuk ahli muda kependidikan disingkat A.Ma.Pd., ahli madya keperawatan disingkat A.Md.Per., ahli madya kesehatan disingkat A.Md.Kes., ahli madya kebidanan disingkat A.Md.Bid., dan ahli madya pariwisata disingkat A.Md.Par.

Selanjutnya, banyak orang bertanya-tanya tentang beberapa gelar doktor luar negeri yang tidak mereka pahami maksudnya, juga tidak mereka ketahui cara penulisannya, sehingga banyak diantara mereka hanya dapat memperkirakan maksud, dan demikian pula cara penulisannya. Karena berdasarkan perkiraan belaka, maka banyak diantara mereka salah menebak maksud serta cara penulisannya.

Penulisan gelar doktor, master, dan sarjana muda dari luar negeri, ditulis di belakang nama penyandang gelar. Sebagaimana penulisan gelar-gelar dalam negeri, penulisan gelar dari luar negeri pun sama. Untuk dapat memahami penulisan yang benar, kita perlu menganalisis kata per kata sebagaimana cara menganalisis kata per kata pada penulisan gelar dalam negeri. Sebagai misal, gelar doctor of philosophy, yang ditulis benar [Ph.D.]. Huruf “P” ditulis dengan huruf besar ( kapital ), tetapi huruf “H” ditulis dengan huruf kecil, dan diakhiri dengan tanda titik. Huruf “H” ditulis dengan huruf kecil karena posisinya sebagai bagian dari rangkaian satu kata dengan huruf “P” yang merupakan kepanjangan dari kata philosophy, sedangkan huruf “D” ditulis dengan huruf besar     (kapital) sebagai singkatan dari kata doctor, dan diakhiri dengan tanda titik.

Perhatikan beberapa gelar doktor luar negeri yang sering kita jumpai di Indonesia, dan contoh penulisannya:

Ph.D. (Doctor of Philosophy);                       =>               Sigit Sugito, Ph.D.

Ed.D. (Doctor of Education);                        =>               Sigit Sugito, Ed.D.

Sc.D. (Doctor of Science);                             =>               Sigit Sugito, Sc.D.

Th.D. (Doctor of Theology);                          =>               Sigit Sugito, Th.D.

Pharm.D. (Doctor of Pharmacy);                  =>                Sigit Sugito, Pharm.D.

D.P.H. (Doctor of Public Health);                 =>               Sigit Sugito, D.P.H.

D.L.S. (Doctor of Library Science);              =>                Sigit Sugito, D.L.S.

D.M.D. (Doctor of Dental Medicince);         =>                Sigit Sugito, D.M.D.

J.S.D. (Doctor of Science of Jurisprudence). =>               Sigit Sugito, J.S.D., dsb.

Tambahan lagi, penulisan gelar ganda yang kedua gelar tersebut berada di belakang nama penyandang gelar, juga perlu memperhatikan teknik penulisan yang benar. Bahwasanya, selama ini kita sering menjumpai bahkan mungkin, menjadi pelaku sendiri penulisan gelar ganda yang tidak memperhatikan tata cara penulisan yang benar.

Teknik penulisan gelar ganda yang kedua-duanya berada di belakang nama penyandang gelar, banyak terkait dengan penggunaan tanda baca koma (,). Penulisan yang benar adalah setelah nama (penyandang gelar), dibubuhkan tanda koma (,) kemudian diikuti gelar yang pertama, ditulis dengan teknik penulisan yang benar, lalu dibubuhkan tanda koma untuk penulisan gelar yang kedua, dan seterusnya (jika ada gelar-gelar yang lain). Perhatikan beberapa contoh penulisan gelar ganda di bawah ini:

Endra Lesmana, S.Ag., S.H.

Endra Lesmana, S.Pd., S.S.

Endra Lesmana, S.Hum., S.Pd.I.

Jika penyandang gelar memiliki gelar lebih dari dua gelar, dan semuanya berada di belakang nama penyandang gelar, teknik penulisannya pun sama. Perhatikan pula beberapa contoh penulisan gelar yang lebih dari dua gelar di belakang nama penyandang gelar.

Imam Prasodjo, S.S., M.Hum., M.Pd.

Imam Prasodjo, S.Pd., S.S., M.Ed.

Imam Prasodjo, S.Ag., M.E.I., Ph.D.

Penulisan gelar dengan mengikuti nama penyandang gelar yang ditulis dengan huruf balok (kapital), gelar tetap ditulis sesuai dengan penulisan gelar yang benar. Jika gelar tersebut terdapat huruf peluncur sebagai bagian dari rangkaian satu kata, sebagai misal, gelar S.Ag., S.Pd., S.Pt., huruf g, d, dan t yang posisinya sebagai huruf peluncur dari rangkaian satu kata, tidak ditulis dengan huruf besar. Perhatikan beberapa contoh di bawah ini:

Ditulis Benar                          Ditulis Salah                       Juga Ditulis Salah

Hadi Mulya, S.Pd.                   HADI MULYA, S.PD.        HADI MULYA, S.Pd.

Hadi Mulya, S.Ag.                   HADI MULYA, S.AG.       HADI MULYA, S.Ag.

Hadi Mulya, S.Pt.                    HADI MULYA, S.PT.        HADI MULYA, S.Pt.

Di dalam aturan kebahasaan, nama orang tidak dibenarkan ditulis dengan huruf balok (kapital), kecuali untuk kepentingan tertentu. Jika ditulis, huruf balok (kapital) hanya dibenarkan ditulis pada awal kata nama orang. Karena itu, penulisan gelar dengan mengikuti nama penyandang gelar yang sama-sama ditulis menggunakan huruf balok, tidak hanya salah, tetapi sudah salah kaprah

 

  1. Gelar akademik guru di SMA Negeri 4 Lahat dengan bidang studi yang diajarkannya

  Sebagian besar gelar akademik yang disandang oleh guru sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya ( pendidikan S1 ).   Akan tetapi ada beberapa  guru yang belum sinkron antara gelar akademik yang disandangnya dengan bidang studi yang diajarkannya.   Sebagai contoh seperti tertera pada tabel 4 berikut ini.

Tabel 4. Gelar Akademik guru di SMA Negeri 4 Lahat dengan bidang studi yang diajarkan

No.

Nama

Latar belakang pendidikan

Bidang studi yang diajarkan

S1

S2

1.

2.

3.

4.

5.

1.

Drs. Bernard, M.M.

PendidikanMatematika

Manajemen

Matematika

2.

Drs. Iskandar, M.Si.

Pendidikan Fisika

Ekonomi Manajemen

Fisika

   3.

Satri Gus Endang, S.Pd.

Pendidikan Sejarah

Sosiologi

1.

2.

3.

4.

5.

  4.

         Yuli Novi Astuti, S.Pd.

Pendidikan B.Indonesia

Seni

 5.

        Mutiara Meica, S.Pd.

Pendidikan PPKn.

Sosiologi

            Berdasarkan pada tabel 4 di atas, ada beberapa guru yang kualifikasi pendidikannya tidak sinkron dengan bidang studi yang diajarkannya.   Pada Guru Matematika dan Fisika dilihat dari pendidikan strata satunya memang sinkron dengan bidang studi yang diajarkannya yaitu Matematika dan Fisika akan tetapi sangat disayangkan pendidikan strata duanya tidak sinkron dengan bidang studi yang diajarkannya.   Lain halnya dengan guru yang latar pendidikannya adalah Pendidikan Sejarah dan PPKn. yang mengajar Sosiologi, hal ini jelas menunjukan ketidaksinkronan antara bidang keilmuan dengan bidang studi yang diajarkan.   Diduga,  SMA Negeri 4 Lahat mengalami kesulitan  mencari guru yang memang berlatarkan pendidikan sosiologi.   Kemudian, ada juga guru yang berlatar pendidikan Bahasa Indonesia tugasnya mengajar Seni, idealnya mata pelajaran seni diajarkan oleh guru yang berlatar pendidikan Seni.   Hal tersebut diduga disebabkan karena kurangnya peminat dan tempat pendidikan untuk menjadi guru seni.   Dengan adanya ketidaksinkronan antara pendidikan strata satu seorang guru dengan bidang studi yang diajarkannya, maka  ikut mempengaruhi proses dan hasil belajar seperti yang diharapkan.   Idealnya, pendidikan strata satu seorang guru sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya sehingga kelak dikemudian hari, guru tersebut dapat menjadi guru yang profesional dalam upaya menciptakan pendidikan yang berkualitas demi masa depan anak – anak bangsa ke depan.

  1. Upaya peningkatan kualifikasi guru SMA Negeri 4 Lahat dari S1 ke S2

Upaya peningkatan kualifikasi guru di SMA Negeri 4 Lahat telah ada. Hal ini berpedoman pada Surat Keputusan Direktorat Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah No. 697/C4/MN/2007 tentang sekolah penyelenggara program rintisan sekolah menengah atas bertaraf internasional (SMA BI ) yang menetapkan bahwa SMA Negeri 4 Lahat sebagai sekolah yang diprogram sebagai pengembangan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional ( SMA BI ), kemudian dalam situs www.dikdas.go.id menyatakan bahwa karakteristik pendidik pada sekolah RSBI  memiliki minimal 30% guru berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya berakreditasi A untuk SMA/SMK/MA/MAK.  Upaya tersebut bisa dilihat pada tabel 5 berikut ini.

Tabel 5. Guru SMA Negeri 4 Yang Menempuh Pendidikan S2

No. Nama

Latar Belakang Pendidikan

Perguruan Tinggi

Keterangan

1.

2.

3.

4.

5.

Drs.Bernard, M.M.

S1 Matematika

S2 Manajemen

STIE Artha Bodhi Iswara Surabaya

Tamat
Drs.Iskandar, M.Si.

S1 Fisika

S2 Ekonomi Manajemen

Unsri Tamat
3 Baslini, S.Pd., M.Pd. S1. Pend.B.Inggris S2

Pend.B.Inggris

Unsri Tamat
4 Evi Yosita Silva, S.Pd., M.Pd. S1. Pend.Matematika S2. Pend.Matematika Unsri Tamat
5 Aminuddin, S.Pd. S1. Pend.Matematika S2. Pend.Matematika Unsri Sedang Menempuh, Semester 3

4.

5.

6.

6 Sugeng Widada, S.Pd. S1

Sejarah

S2

Teknologi Pend.

Unsri Sedang Menempuh, Semester 3
7 Sischa Iramala Dewi, S.Pd. S1

Pend.Bahasa Indonesia

S2

Pend. Bahasa Indonesia

Unsri Sedang Menempuh, Semester 3
8 Edi Iskandar, S.Pd. S1

Pend.Fisika

S2

Teknologi Pend.

Unsri Sedang Menempuh, Semester 3
9 Aprizal Efendi, S.Pd. S1

Pend. Biologi

S2

Teknologi Pend.

Unsri Sedang Menempuh, Semester 1

                Mengacu pada karakteristik  pendidik pada sekolah RSBI memiliki minimal 30% guru berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya berakreditasi A untuk SMA/SMK/MA/MAK sehingga dapat dihitung tenaga pendidik yang ada di SMA Negeri 4 Lahat yang berstatus PNS berjumlah 27 Orang. Untuk itu dapat dihitung apakah sudah dapat memenuhi kriteria pendidik seperti yang diinginkan. Dengan kalkulasinya sebagai berikut.

Di SMA Negeri 4 Lahat sudah memiliki tenaga pendidik/guru sebanyak 9 orang yang berpendidikan Strata 2 dengan rincian 4 orang sudah menyelesaikan pendidikannya dan 5 orang sedang menempuh pendidikan strata duanya.   Sehingga dapat dikatakan bahwa”SMA Negeri 4 Lahat sudah memiliki tenaga pendidik sesuai dengan criteria minimal SMA RSBI bila ditinjau dari kuantitasnya”.

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan
    1. Penulisan gelar akademik di SMA Negeri 4 Lahat secara umum sudah benar meskipun masih terdapat kekeliruan tata cara penulisan gelar akademik contohnya tidak ada tanda titik pada huruf terakhir gelar akademik
    2. Gelar akademik yang disandang oleh guru SMA Negeri 4 Lahat sebagian besar sesuai dengan bidang studi yang diajarkannya walaupun masih terdapat beberapa orang guru yang tidak/belum sinkron antara gelar akademik yang disandangnya dengan bidang studi yang diajarkannya.
    3. Telah ada upaya peningkatan kualifikasi guru SMA Negeri 4 Lahat dari S1 ke S2 sebanyak 9 orang.

  1. B.      Saran

Disarankan adanya pendidikan dan pelatihan bagi karyawan tata usaha tentang tata cara penulisan gelar akademik, kemudian idealnya guru yang direkrut hendaknya kompetensinya sesuai dengan bidang studi yang akan diajarkan

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dirjenmandikdasmen tentang Kebijakan Sekolah Bertaraf Internasional. Diakses pada tanggal 8 Desember 2011 dari www.dikdas.go.id

http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori

http://id.wikipedia.org/wiki/Gelar Akademik. Diakses 9 Desember  2011.

Indriani, Weni.2010.Perolehan dan Penggunan Gelar Akademik di Indonesia.Diakses pada tanggal 20 Oktober 2011 dari www.blog.unsri.ac.id/…pendidikan/makalahlandasan-d.

Kepmendiknas No.178 Tahun 2001 Tentang Gelar dan Lulusan Perguruan Tinggi.

Kadiman, Kusmayanto. 2009.Gelar Akademik-Neofeodalisme. Diakses 14 Oktober 2011 dari http://sosbud.kompasiana.com/2009/10/16/gelar akademik-neo feodalisme/

Permendiknas Republik Indonesia No. 46 Tahun 2009 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Diakses pada tanggal 6 Oktober 2011 dari http:// id.wikisource.org/…/Pedoman_Umum_Ejaan_Bah..

Surat Keputusan Dirjenmandikdasmen No. 697/C4/MN/2007 tentang Penetapan Sekolah Penyelenggara Program Rintisan Sekolah Menengah Atas bertaraf Internasional.

Tilaar, H.A.R. 2004. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Penerbit Rineka Cipta.

Jakarta.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 848,625 hits
Alesha lagi trsenyum..
%d blogger menyukai ini: