Aksiologi Ilmu dan Kebudayaan ,perkembangan Ilmu dan Kebudayaan

A. PENDAHULUAN

Kebutuhan hidup manusia sangat banyak sekali., untuk memenuhi kebutuhan hidup itulah mendorong manusia melakukan berbagai tindakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.Menurut Ashley Montagu dalamJujun (2003) kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan hidupnya.

Maslow dalam Jujun (2003) mengidentifikasi lima kelompok kebutuhan manusia yaitu kebutuhanfisiologi, rasa aman, afiliasi, harga diri dan pengembangan potensi. Untuk memenuhi kebutuhan itu manusia tidak dapat bertindak secara otomatis , secara instinktif namun diimbangi manusi dengan belajar,berkomunikasi dan menguasai objek objek yang bersifat fisik.

Manusia mempunyai budi , yang merupakan pola kejiwaan yang berisi dorongan dorongan hidup yang dasar , perasaan, dengan pikiran kemauan dan fantasi. Budi inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan suatu hubungan yang bermakna dengan alam sekitarnya, pilihan inilah yang menjadi isi kebudayaan.

Nilai nilai budaya inilah yang merupakan jiwa dari kebudayaan yang diwujudkan dalam tata hidup yang merupakan bagian dari kegiatan manusia yang mencerminkan nilai budaya yang dikandungnya.

Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

Disamping itu nilai budaya dan tata hidup manusia ditopang oleh sarana kebudayaan , sarana kebudayaan ini pada dasarnya merupakan perwujudan yang bersifat fisik yang merupakan produk dari kebudayaan atau alat yang memberi kemudahan dalam kehidupan. Untuk mewujudkannya diperlukan pendidikan sebab semua materi yang terkandung dalam kebudayaan diperoleh manusia secara sadar lewat proses belajar.

Lewat proses belajar inilah diteruskan kebudayaan dari generasi yang satu ke generasi selanjutnya artinya kebudayaan yang telah lalu bereksitensi pada masa kini dan kebudayaan masa kini disampaikan ke masa yang akan datang. Semuanya dilalui melalui proses pendidikan.

Dewasa ini ilmu menjadi sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari, seolah-olah manusia sekarang tidak dapat hidup tanpa ilmu pengetahuan. Kebutuhan manusia yang paling sederhana pun sekarang memerlukan ilmu. Ilmu adalah dari pengetahuan. Untuk mendapatkan ilmu diperlukan cara-cara tertentu, ialah adanya suatu metode dan mempergunakan sistem, mempunyai objek formal dan objek material.

Seiring perjalan waktu, dewasa ini kurun ilmu dan teknologi menjadi pengembangan utama bidang ilmu dan secara tidak langsung , kebudayaan kita tidak akan terlepas dari pengaruhnya, sehingga kita harus ikut memperhitungkan hal ini. Bagaimana peranan ilmu sebagai sumber nilai dapat ikut mendukung pengembangan kebudayaan Nasional.

Bentuk pendidikan yang bagaimana yang harus kita berikan kepada generasi berikutnya agar proses pendidikan kita dapat mengatasi gejala gejala yang berpengaruh dari segi nilai nilai budaya, sebab objek inilah yang merupakan dasar ideal bagi perwujudan kebudayaan pada generasi yang akan datang.

Pendidikan merupakan usaha sadar dan sistimatis dalam membantu anak didik untuk mengembangkan pikiran, kepribadian dan kemampuan fisiknya. maka kita perlu menelaah dan meramalkan skenario pada masyarakat kita yang akan datang. maka masalah pertama yang dihadapi oleh pendidikanialah menerapkan nilai-nilai budaya apa saja yang harus dikembangkan dalam diri anak-anak kita.

Untuk mengatasi nilai nilai budaya apa saja yang harus dikembangkan dalam diri anak kita, diduga dengan pendidikan yang mewariskan nilai nilai dasar dalam kebudayaan. Nilai nilai budaya yang diperlukan oleh anak didik kita kelak dimana dia akan dewasa dan berfungsi dalam kehidupan bermasyarakat.

B. PEMBAHASAN

Aksiologi berasal dari bahasa Yunani axios yang berarti nilai dan logos berarti teori, jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. Sedang Jujun (2003), aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Sedangkan dalam encyclopedia of philosophy diartikan sebagai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai yang dalam teori filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika.

2.1. Ilmu

Ilmu menurut The Liang Gie dalam Surajio (1987) adalah rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh pemahaman secara rasional empiris mengenai dunia ini dalam berbagai seginya dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia. Tertuang dalam bagan berikut :

Bagan Ilmu menurut The Liang Gie

Dari bagan tersebut memperlihatkan bahwa ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu dan akhirnya aktivitas metode itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis.

Ilmu sebagai aktivitas ilmiah dapat berwujud penelaahan, penyelidikan, usaha menemukan atau pencarian. Oleh karena itu pencarian biasanya dilakukan berulang-ulang. Maka dalam dunia ilmu kini dipergunakan istilah penelitian untuk aktivitas ilmiah yang paling berbobot guna menemukan pengetahuan baru.

Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencangkup berbagai tindakan, pikiran, pola kerja, tata langkah, dan cara teknis untuk memperoleh pengetahuan baru atau perkembangan pengetahuan yang ada. Metode yang berkaitan dengan pola prosedural meliputi pengamatan, percobaan, pengukuran, survei, deduksi, induksi, analisis, dan lain-lain.

Dari aktivitas ilmiah dengan metode ilmiah yang dilakukan para ilmuwan dapatlah dihimpun sekumpulan pengetahuan yang baru atau disempurnakan pengetahuan yang telah ada sehingga dikalangan ilmuwan maupun filsuf pada umumnya terdapat kesepakatan bahwa ilmu adalah sesuatu kumpulan pengetahuan yang sistematis.

a. Ilmu Sebagai Suatu Cara Berpikir

Berpikir ilmiah merupakan kegiatan berpikir yang memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, yang memiliki dua kriteria utama, yaitu :

  1. Pernyataan harus logis
  2. Didukung fakta empiris (Empiris: berdasarkan pengalaman dan pengetahuan)

Kedua kriteria tersebut saling mengikat, yang pertama setiap pernyataan yang disampaikan harus logis dan diperolah dari fakta-fakta empiris, merupakan hakikat berpikir ilmiah. Dari hakikat ini, kita dapat menyimpulakan beberapa karakteristik ilmu :

  1. Ilmu mempercayai rasio sebagai alat untuk mendapatkan pengetahuan yang benar
  2. Akar berpikir yang logis yang konsisten dengan pengetahuan yang ada.
  3. Pengujian secara empiris sebagai kriteria kebenaran objektif.
  4. Mekanisme yang terbuka terhadap koreksi

Maka disimpulkan manfaat yang dapat diperoleh dari karakteristik ilmu ialah rasional,logis,objektif dan terbuka dan kritis sebagai landasannya.

b. Ilmu sebagai Asas Moral

Kebenaran bagi ilmuwan mempunyai kegunaan yang universal bagi umat manusia dalam meningkatkan martabat ke manusiaanya. Secara nasional kaum ilmuwan tidak mengabdi kepada golongan, klik politik atau kelompok lain, secara internasional kaum ilmuwan tidak mengabdi kepada ras, ideology, dan factor – factor pembatasolainnya, dua karakteristik ini merupkan asas moral bagi ilmuwan yakni meninggikan kebenaran dan pengabdian secara universal. Dalam kenyataannya pelaksanaan asas moral ini tidak mudah sebab tahap perkembangan ilmu yang sangat awal kegiatan ilmiah ini di pengaruhioolehostrukturokekuasaanodarioluar.oMenurutoBachtiarodalamoJujun (2003:275) Lebih menonjol lagi pada Negara yang sedang berkembang , karena sebagian besar kegiatan keilmuan merupakanokegiatanoaparaturoNegara.

Artinya dalam menetapkan suatu pernyataan apakah itu benar atau tidak maka seorang ilmuwan akan menarik kesimpulannya kepada argumentasi yang terkandung dalam pernyataan itu dan bukan kepada pengaruh yang berbentuk kekuasaan dari kelembagaan yang mengeluarkan pernyataan itu. Hal ini sering menempatkan ilmuwan pada tempat yang bertentangan dengan pihak yang berkuasa yang mungkin mempunyai kriteria kebenaran yang lain.

2.2. Kebudayaan

Kebudayaan berasal dari bahasa Sangsekerta buddhayah yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Berikut ini beberapa pengertian kebudayaan dari para ahli yaitu :

1. Ki Hajar Dewantara

Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuang manusia terhadap dua pengaruh kuat yakni alam dan zaman (kodrat dan manusia) yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran di dalam hidup dan penghidupan guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.

2. Sultan Takdir Alisyahbana

Kebudayaan adalah manifestasi dari cara berpikir sehingga menurutnya pola kebudayaan itu sangat luas sebab semua laku dan perbuatan tercangkup di dalamnya dan dapat diungkapkan pada basis dan cara berpikir termaksud di dalamnya perasaan karena perasaan juga merupakan maksud dari pikiran.

3. Koentjaraningrat

Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

4. A.L Kroeber dan C. Kluckhohn

Kebudayaan adalah manifestasi atau penjelmaan kerja jiwa manusia dalam arti seluas-luasnya

5. Malinowski

Kebudayaan pada prinsipnya berdasarkan atas berbagai sistem kebutuhan manusia. Tiap tingkat kebutuhan itu menghadirkan corak budaya yang khas. Misalnya guna memenuhi kebutuhan manusia akan keselamatannya maka timbul kebudayaan yang berupa perlindungan yakni seperangkat budaya dalam bentuk tertentu seperti lembaga kemasyarakatan. (Supartono Widyosiswoyo, 1996) dalam surajino.

Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia, kebudayaan adalah suatu kebudayaan yang dapat digunakan sebagai suatu analisis tertentu yang mengandung makna totalitas dari sekadar penjumlahan unsur-unsur yang terdapat di dalamnya.

2.3. Ilmu dan Kebudayaan

Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan . menurut Talcot Parsons dalam Jujun (2003), mereka saling mendukung satu sama lain : Dalam beberapa tipe masyarakat ilmu dapat berkembang dengan pesat , demikian pula sebaliknya, masyarakat tersebut tak dapat berfungsi dengan wajar tanpa didukung perkembangan yang sehat dari ilmu dan penerapan.

Ilmu dan kebudayaan berada pada posisi yang saling tergantung dan saling mempengaruhi. Pada satu pihak perkembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung dari kondisi kebudayaannya. Sedangkan dipihak lain , pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya kebudayaan.Ilmu terpadu secara intim dengan keseluruhan sistem sosial dan tradisi kebudayaan.

Menurut E.B Taylor dalam buku Primitive Culture ,1871 yang dikutip oleh Jujun (2003) , kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Selain dari pendapat diatas terdapat ratusan lain definisi tentang kebudayaan yang telah dipublikasikan tentang kebudayaan selama lebih kurang tiga perempat abad, namun pada dasarnya tidak terdapat perbedaan yang bersifat prinsip dengan definisi pertama yang dicetuskan Taylor.

Menurut Kunjraningrat dalam Jujun (2003,261) menyatakan bahwa kebudayaan terdiri atas system religi dan kepercayaan,upacara keagamaan,system dan organisasi kemasyarakatan,system pengetahuan, bahasa, kesenian,system mata pencarian serta teknologi dan peralatan.

Manusia sebagai suatu objek dan sekaligus subjek dari suatu kebudayaan memiliki kebutuhan –kebutuhan yang sangat banyak,pemenuhan kebutuhan inilah yang menjadi salah satu cara manusia untuk mengembangkan unsur-unsur kebudayaan yang dikenalnya

Maslow dalam Jujun (2003,262) Kebutuhan manusia sebagai makhluk diidentifikasi menjadi lima kelompok, yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman, afiliasi, harga diri dan pengembangan potensi.

- fisiologis berhubungan dengan seluk beluk kelompok,fungsi dan bagian kehidupan.

- Rasa aman berhubungan dengan perlindungan diri

- afiliasai berhubungan dengan kerjasama atau hubungan dengan orang lain.

- Harga diri berhubungan dengan kehormatan

- Pengembangan potensi berhubungan dengan kemampuan untuk memaksimalkan bakat dan sebagainya.

Manusia sebagai makhluk tuhan pada dasarnya tidak mampu untuk bertindak instrintif atau berdasarkan naruni semata seperti yang terjadi pada hewan. Oleh karena itulah dikembangkan suatu cara untuk mengajarkan cara hidup yang kita sebut sebagai kebudayaan. Akan tetapi meski tidak dapat bertindak instrintif, manusia memiliki kemampuan komunikasi, belajar dan menguasai objek-objek secara fisik.

Nilai-nilai kebudayaan adalah jiwa dari kebudayaan dan menjadi dasar dari segenap wujud kebudayaan. Selain nilai budaya kebudayaan juga diwujudkan dalam tata hidup yang merupakan kegiatan manusia yang mencerminkan nilai budaya yang dikandungnya. Nilai budaya bersifat abstrak sedangkan tata hidup bersifat real. Kegiatan manusia dapat ditangkap oleh panca indera sedangkan nilai budaya hanya tertangguk oleh budi manusia.

Keseluruhan yang dipaparkan diatas sangat erat kaitannya dengan pendidikan, sebab semua materi yang terkandung dalam suatu kebudayaan diperoleh manusia dengan sadar lewat proses belajar, secara belajarlah yang membuat transfer kebudayaan dari generasi yang satu kegenerasi berikutnya. Dengan demikian kebudayaan diteruskan dari waktu kewaktu : kebudayaan yang telah lalu bereksitensi pada masa kini, kebudayaan masa kini disampaikan ke masa yang akan datang.

2.4. Kebudayaan dan Pendidikan

Allport, Vernon dan Lindsey dalam Jujun (2003:263) mengidentifikasikan enam nilai dasar dalam kebudayaan yakni nilai teori, ekonomi, estitika, sosial, politik dan agama.

a. Nilai Teori adalah hakikat penemuan kebenaran lewat berbagai metode seperti rasionalisme, empirisme dan metode ilmiah.

b. Nilai ekonomi adalah kegunaan dari berbagai benda dalam memenuhi kebutuhan manusia.

c. Nilai estitika adalah berhubungan dengan keindahan dan segi segi artistik yang menyangkut antara lain bentuk , harmoni dn wujud kesenian lainnya yang memberi kan kenikmatan kepada manusia.

d. Nilai sosial adalah nilai berorientasi kepada hubungan antar manusia dan penekanan segi segi kemanusiaan yang luhur.

e. Nilai politik adalah kegiatan yang berpusat kepada kekuasaan dan pengaruh baik dalam kehidupan masyarakat maupun dunia politik

f. Nilai Agama adalah penghayatan yang bersifat mistik dan trasedental dalam usaha manusia untuk mengerti dan memberi arti bagi kehadirannya di muka bumi.

Dari penggolongan diatas maka masalah pertama yang dihadapi oleh pendidikan ialah menerapkan nilai-nilai budaya apa saja yang harus dikembangkan dalam diri anak-anak kita.

Pendidikan merupakan usaha sadar dan sistimatis dalam membantu anak didik untuk mengembangkan pikiran, kepribadian dan kemampuan fisiknya. Dan anak didik kita memang memerlukan pendidikan yang utuh, artinya pendidikan harus sesuai dan relevan dengan kebudayaan dan zaman si anak, namun pada kenyataannya pendidikan ternyata tidak relevan dengan zaman dan kebudayaan anak tersebut dimasa depan. Karena masih banyak pola pendidikan kita yang konvensional dan tidak memberi nilai lebih bagi anak.Tetapi untuk menentukan nilai mana yang patut didapatkan anak didik, maka kita perlu menelaah dan meramalkan skenario pada masyarakat kita yang akan datang.

Skenario masyarakat Indonesia dimasa yang akan datang dapat coba kita ramalkan,dengan memperhatikan semua indikator yang ada dan berkembang saat ini di masyarakat kita, maka diduga masyarakat yang akan datang akan cenderung berkarakter sebagai berikut :

  1. Berubah dari masyarakat Rural Agraris kemasyarakat Urban Industri

Artinya pergeseran masyarakat yang awalnya pola kehidupannya banyak berubah,dari masyarakat yang didominasi pertanian ke masyarakat industri.

  1. Pengembangan kebudayaan kearah perwujudan peradaban yang berdasar Pancasila.

Dalam karakter pertama,dibanding masyarakat tradisional,masyarakat modern lebih memiliki indikator sebagai berikut :

a. Bersifat analitik,artinya setiap aspek kehidupan berdasarkan pada aspek efisiensi baik secara teknis maupun ekonomis.

b. Individual,artinya kurang bersifat komunal terlebih dari sudut pandang pengembangan potensi manusiawi.

Indikator pertama memberikan tempat yang penting kepada nilai teori dan nilai ekonomi, nilai teori berkaitan dengan aspek penalaran ilmu dan teknologi. Sedangakan nilai ekonomi berpusat kepada penggunaan sumber dan benda ekonomi secara lebih efektif dan efisien berdasarkan pola kebutuhan masyarakat. Indikator kedua menimbulkan pergeseran dalam nilai sosial dan nilai kekuasaan politik. Kedua indikator ini harus lebih berorientasi pada kepercayaan pada diri sendiri serta keberanian mengambil keputusan.

Dalam masyarakat modern semua aspek kehidupan dan bermasyarakat pengambilan keputusan didapatkan pada hasil pemikiran dan pertimbangan yang matang, sehingga dalam masyarakat modern pengambilan keputusan dengan menggunakan instuisi, perasaan dan tradisi makin berkurang dan meskipun masih dikerjakan namun relatif lebih rendah.

Dengan demikian secara berangsur-angsur pola kehidupan masyarakat tradisional yang lebih mengedepankan status akan beralih menjadi masyarakat modern yang berorientasi pada prestasi. Persaingan akan lebih tampak umpamanya saja dalam mencari tempat dalam sistem pendidikan dan mencari pekerjaandimana gejala ini sudah kita rasakan sekarang ini.

Untuk terjun ke gelanggang yang keras ini manusia harus dibekali dengan kepercayaan pada diri sendiri serta persiapan mental dan kemampuan untuk bersaing. Tanpa kelengkapan ini maka dia akan tersingkir dan gagal menjadi anggota masyarakat yang berguna.

Pengembangan kebudayaan nasional harus ditujukan kearah terwujudnya suatu peradaban yang mencerminkan aspirasi dan cita-cita bangsa Indonesia. Pancasila merupakan filsafat dan pandangan hidup bangsa Indonesia merupakan dasar perngembangan peradaban tersebut. Namun untuk mengembangkan peradaban tersebut diperlukan nilai khusus yang bernama kreatifitas, Kreatifitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mencari pemecahan baru terhadap suatu masalah.

Nilai agama berfungsi sebagai sumber moral bagi segenap kegiatan .Hakikat semua upaya manusia dalam lingkup kebudayaan haruslah ditujukan untuk meningkatkan martabat manusia, sebab kalau tidak maka hal ini bukanlah proses pembudayaan melainkan dekadensi, keruntuhan peradaban.

Dalam hal ini agama merupakan kompas dan tujuan, kalau ilmu bersifat nisbi dan pragmatis maka agama adalah mutlak dan abadi. Kiranya tak ada orang yang lebih tepat selain Albert Einstein untuk mengungkapkan hakikat ini dengan kata kata, ” Ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh”

Adalah kewajiban kita bersama mempersiapkan anak anak kita untuk hidup dalam zamannya. Manuasia yang bertaqwa, terdidik, bermoral luhur, estetik, makhluk yang berusaha maju dan bekerja keras dengan mandiri : bukan melulu hadir, sekadar eksisi, namun hidup dengan keseluruhan manusia yang intens. Yang merupakan nilai budaya yang harus kita kembangkan.

2.5. Perkembangan Ilmu dan Perkembangan Kebudayaan Nasional

Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur kebudayaan. Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling tergantung dan saling mempengaruhi. Disatu pihak pengembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung kondisi kebudayaannya, tapi dipihak lain pengembangan ilmu akan mempengaruhi jalannya kebudayaan.

Menurut Talcot Persons dalam Jujun.S (2003:272) ”Mereka saling mendukung satu sama lain ., dalam beberapa tipe masyarakat ilmu dapat berkembang dengan pesat , demikian pula sebaliknya , masyarakat tersebut tak dapat berfungsi dengan wajar tanpa didukung perkembangan yang sehat dari ilmu dan penerapannya “

Peranan ganda ilmu dalam pengembangan kebudayaan nasional adalah sebagai berikut :

  1. Ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselenggaranya perkembangan kebudayaan nasional
  2. Ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa.

Kedua hal ini terpadu satu sama lain dan sukar dibedakan. Pengkajian perkembangan kebudayaan nasioal tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ilmu.

Seiring perjalan waktu, dewasa ini kurun ilmu dan teknologi menjadi pengembangan utama bidang ilmu dan secara tidak langsung kebudayaan kita tak terlepas dari pengaruhnya, sehingga kita harus ikut memperhitungkan hal ini. Untuk itu dibicarakan peranan ilmu sebagai sumber nilai yang ikut mendukung pengembangan kebudayaan Nasional. Ada 7 nilai yang terkandung dalam hakikat keilmuan yaitu:

    1. Kritis
    2. Rasional
    3. Logis
    4. Objektif
    5. Terbuka
    6. Menjunjung kebenaran
    7. Pengabdian universal.

Ketujuh sifat ini sangat akan sangat konsisten untuk membentuk bangsa yang modern. Karena bangsa yang modern akan menghadapi banyak tantangan di segala bidang kehidupan. Pengembangan kebudayaan nasional pada hakikatnya adalah perubahan kebudayaan konvensional kearah yang lebih aspirasi.

Jika menurut kita benar bahwasanya ilmu bersifat mendukung budaya nasional,maka kita perlu meningkatkan peranan keilmuan dalam kehidupan kita.Beberapa langkah yang dapat kita gunakan yang pada pokoknya mengandung beberapa pemikiran sebagai berikut:

  1. Ilmu merupakan bagian kebudayaan,sehingga setiap langkah dalam kegiatan peningkatan ilmu harus memperhatikan kebudayaan kita.
  2. Ilmu merupakan salah satu cara menemukan kebenaran.
  3. Asumsi dasar dari setiap kegiatan dalam menemukan kebenaran adalah percaya dengan metode yang digunakan.
  4. Kegiatan keilmuan harus dikaitkan dengan moral.
  5. Pengembangan keilmuan harus seiring dengan pengembangan filsafat
  6. Kegiatan ilmah harus otonom dan bebas dari kekangan struktur kekuasaan.

Keenam hal ini merupakan langkah-langkah untuk memberi kontrol bagi masyarakat terhadap kegiatan ilmu dan teknologi.

C. KESIMPULAN

Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsur dari kebudayaan. Kebudayaan yang merupakan seperangkat sistem nilai , tata hidup, dan sarana bagi manusia dalam kehidupannya.

Dalam rangka pengembangan kebudayaan nasional ilmu mempunyai peranan ganda.

a. Pertama, ilmu merupakan sumber nilai yang mendukung terselengaranya pengembangan kebudayaan nasional.

b. Kedua, Ilmu merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa.

Oleh sebab itu ilmu dapat diperoleh manusia lewat kegiatan belajar melalui pendidikan. Pendidikan harus memuat nilai nilai budaya yang merupakan kebudayaan bangsa Indonesia dalam bentuk kebudayaan nasional. Sehingga pendidikan harus berisi ilmu yang yang mendukung terselengaranya pengembangan kebudayaan nasional dan merupakan sumber nilai yang mengisi pembentukan watak suatu bangsa.

Untuk melakukan proses pendidikan dan menerapkan nilai-nilai budaya apa saja yang harus dikembangkan dalam diri anak-anak kita dengan membekali mereka ilmu dengan nilai nilai budaya yang erat kaitannya dengan kehidupan bangsa Indonesia yang merupakan kebudayaan nasional. Dalam proses pendidikan ada enam nilai yang harus diberikan kepada anak didik kita yaitu : nilai teori, ekonomi, estitika, sosial, politik dan agama.

Kebudayaan nasional merupakan kebudayaan yang mencerminkan aspirasi dan cita cita suatu bangsa yang diwujudkan dengan kehidupan bernegara. Pengembangan kebudayaan nasional merupakan bagian dari kegiatan suatu bangsa , baik disadari atau tidak maupun dinyatakan secara eksplisit atau tidak.

Daftar Pustaka

Surajio. 2008. ”Filsafat Ilmu”. Jakarta : PT. Bumi Aksara

Suriasumantri, Jujun S. 2003. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer.

Jakarta : Pustaka Sinar Harapan

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 298,999 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: