SARANA BERPIKIR ILMIAH : BAHASA, MATEMATIKA, DAN STATISTIKA

A. Bahasa

1. Pengertian Bahasa

Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, bahasa sebagai sarana komunikasi antar manusia, maka segala yang berkaitan dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa, seperti berpikir sistematis dalam menggapai ilmu dan pengetahuan. Dengan kata lai, tanpa mempunyai kemampuan berbahasa seorang tidak dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah secara sistematis dan teratur.

Banyak ahli yang bahsa yang telah memberikan uraiannya tentang pengertian bahasa. Sudah barang tentu setipa ahli berbeda-beda cara penyampaiannya. Bloch and Trager (dalam Bakhtiar, Amsal, 2011:176) mengatakan bahwa a language is a system of arbitrary vocal symbol by means of which a social group cooperates ( bahasa adalah suatu system symbol-simbol bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat untuk berkomunikasi).

Senada dengan definisi di atas, Joseph Broam (dalam Bakhtiar, Amsal, 2011:176-177) mengatakan bahwa a language is a structured system of arbitrary vocal symbol by means of wich members of social group interact (suatu system yang berstruktur dari symbol-simbol bunyi arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota suatu kelompok sosial sebagai alat bergaul satu sama lain).                                                                                                                  Batasa di atas memerlukan sedikit penjelasan agar tidak terjadi salah paham. Oleh karena itu, perlu diteliti setiap unsure yang terdapat didalamnya:

  1. Simbol-simbol

Simbol-simbool berarti thing that stand for other things atau sesuatu yang menyatakan sesuatu yang lain. Jika dikatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem simbol, hal tersebut mengandung makna bahwa ucapan si pembicara dihubungkan secara simbolis dengan objek-objek ataupun kejadian dalam dunia praktis.

  1. Simbol-simbol vocal

Symbol-simbol yang membangun ujaran manusia adalah symbol-simbol vocal, yaitu bunyi-bunyi yang uruta-urutan bunyinya dihasilkan dari kerjasama berbagai organ atau alat tubuh dengan system pernapasan. Untuk memnuhi maksudnya, bunyi-bunyi tersebut di dengar oleh orang lain dan harus di artikulasikan sedemikian rupa untuk memudahkan si pendengar untuk merasakannya secara jelas dan berbeda dari yang lainnya.

  1. Simbol-simbol arbitrer

Istilah arbitrer di sini bermakna “mana suka” dan tidak perlu ada hubungan yang valod secara filosofis antara ucapan lisan dan arti yang dikandungnya.  Hal ini akan lebih jelas bagi orang yang mengetahui lebih dari satu bahasa. Misalnya, untuk menyatakan jenis binatang yang disebut Equua Caballus, orang inggris menyebutnya horse, orang perancis  cheval, orang Indonesia kuda, dan orang arab hison. Semua kata ini sam arbitrernya. Semuanya adalah konvensi sosial yakni sejenis persetujuan yang tidak diucapkan atau kesepakatan  secara diam-diam antara sesame anggota masyarakat yang member setiap kata makna tertentu.

  1. Suatu system yang berstruktur dari simbol-simbol yang arbitrer

Dalam beberapa bahasa, bunyi-bunyi tertentu tidak dapat dipakai di awal kata; yang lainnya tidak dapat dipakai atau menduduki posisi akhir kata. Gabungan bunyi dan urutan bunyi membuktikan betapa pentingnya criteria kecocokaan dan pemolaan yang teratur rapi. Pemolaan ini jelas bersifat intuitif yang merupakan sifat tidak sadar. Walaupun telah ditelaah para sarjana, diciptakan dan telah dipergunakan oleh manusia yang biasanya tidak sadar akan adanya suatu “system berstruktur” yang mendasari ujaran mereka.

  1. Yang dipergunakan oleh para anggota sesuatu kelompok social sebagai alat bergaul satu sama lain

Para ahli sosial menaruh perhatian pada tingkah laku manusia, sejauh tingkah laku tersebutmempengaruhi atau dipengaruhi maniusia lainnya. Dengan bahasa para anggota masyarakat dapat mengadakan interaksi social.

2. Fungsi Bahasa

Secara umum dapat dinyatakan bahwa fungsi bahasa adalah:

  1. Koordinator kegiatan-kegiatan masyarakat
  2. Penetapan pemikiran dan pengungkapan
  3. Penyampaian pikiran dan perasaan
  4. Penyenangan jiwa
  5. Pengurangan kegoncangan hati

Menurut Halliday sebagaimana yang dikutip oleh Thaimah (dalam Bakhtiar, Amsal, 2011:181) bahwa fungsi bahasa adalah sebagai berikut:

  1. Fungsi Instrumental: penggunaan bahasa untuk mencapai suatu hal yang bersifat materi seperti makan, minum, dan sebagainya.
  2. Fungsi Regulatoris: penggunaan bahasa untuk memerintah dan perbaikan tingkah laku.
  3. Fungsi Interaksional: penggunaan bahasa untuk saling mencurahkan perasaan pemikiran antara seseorang dengan orang lain
  4. Fungsi Personal: seseorang menggunakan bahasa untuk mencurahkan perasaan dan pikiran
  5. Fungsi Heuristik: penggunaan bahasa untuk mencapai mengungkap tabir fenomena dan keinginan mempelajarinya.
  6. Fungsi Imajinatif : pengguanaan bahasa untuk mengungkapkan imajinasi seseorang dan gambaran-gambaran tentang discovery seseorang dan tidak sesuai dengan realita (dunia nyata).
  7. Fungsi Representasional: penggunaan bahasa untuk mengambarkan pemikiran dan wawasan serta menyampaikannya kepada orang lain.

Kneller (dalam Bakhtiar, Amsal, 2011:181) mengemukakan 3 fungsi bahasa,  yaitu simbolik, emotif dan afektif. Fungsi simbolik dan emotif menonjol dalam komunikasi ilmiah, sedangkan fungsi afektif menonjol dalam komunikasi estetik.                                                     Sedangkan Buhler (dalam Bakhtiar, Amsal, 2011:180) membedakan fungsi bahasa ke dalam bahasa ekspresif, bahasa konatif, dan bahasa representasional. Bahasa ekspresif yaitu bahasa yang terarah pada diri sendiri yakni si pembicara. Bahasa konatif yantu bahasa yang terarah pada lawan bicara. Dan bahasa representasional yaitu bahasa yang terarah pada kenyataan lainnya, yaitu apa saja selai si pembicara atau lawan bicara.                                      Lebih lanjut, Desmond Morris (dalam Bakhtiar, Amsal, 2011:180) mengemukakan 4 fungsi bahasa yaitu:

  1. Information talking, pertukaran keterangan dan informasi
  2. Mood talking, hal ini sama dengan fungsi bahasa ekspresif yang dikemukakan oleh Buhler
  3. Exploratory talking, sebagai ujaran untuk kepentingan ujaran, sebagaiman fungsi estetis
  4. Grooming talking, tuturan yang sopan yang maksudnya kerukunan melalui percakapan yakni menggunakan bahasa untuk memperlancar proses social dan menghindari pertentangan.

Dari berbagai pendapat di atas dapat di simpulkan bahwa fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan informasi kepada anggota masyarakat.

3. Bahasa Sebagai Sarana Berpikir Ilmiah

Bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif. Dengan kata lain, kegiatan berpikir ilmiah ini sangat berkaitan erat dengan bahasa.             Ketika bahasa disifatkan dengan ilmiah, fungsinya untuk komunikasi yang disifatkan dengan ilmiah juga, yakni komunikasi ilmiah. Komunikasi ilmiah ini merupakan proses penyampaian informasi berupa pengetahuan. Untu mencapai komunikasi ilmiah, maka bahasa yang digunakan harus terbebas dari unsure emotif.

4. Bahasa Ilmiah dan Bahasa Agama

Telah diutarakan sebelumnya bahwa bahasa ilmiah adalah bahasa yang digunakan dalam kegiatan ilmiah, berbeda dengan bahasa agama. Ada dua pengertian mendasar tentang bahasa agama, pertama, bahasa agama adalah kalam ilahi yang terabadikan kedalam kitab suci. Kedua, bahasa agama merupakan ungkapan serta perilaku keagamaan dari seseorang atau sebuah kelompok social. Walaupun ada perbedaan antara kedua bahasa ini namun keduanya merupakan sarana untuk menyampaikan sesuatu dengan gaya bahasa yang khas.            Bahasa ilmiah dalam tulisan-tulisan ilmiah, terutama sejarah selalu dituntut secara deskriftif sehingga memungkinkan pembaca (orang lain) untuk ikut menafsirkan dan mengembangkan lebih jauh. Sedangkan bahsa agama selain menggunakan gaya deskriftif juga menggunakan gaya preskriptif, yakni struktur makna yang dikandung selalu bersifat imperative dan persuasive  dimana pengarang menghendaki si pembaca mengikuti pesan pengarang sebagaimana terformulasikan dalam teks.                                                                            Bahasa agama berasal dari Tuhan tidaklah selalu tidak baik, di mana Dia Maha Bijak dalam memilah dan memilih ungkapan yang tepat dan sesuai dengan ruang, waktu, dan objek yang dituju. Bahasa ilmiah yang nota bene kreasi manusia bagaimanapun indahnya gaya bahasanya dan teratur urutan katanya namun tetap akan berhadapan dengan kritik dan saran dari para pembaca.                                                                                                                         Dengan demikian, tampaklah kelebiahn dan kekurangan antara bahasa ilmiah yang di gunakan manusia dalam kegiatan ilmiahnya dengan bahasa agama yang dipesankan Tuhan kepada manusia untuk menyampaikannya.

B. Matematika

Dalam abad ke-20 ini, seluruh kehidupan manusia sudah mempergunakan matematika, baik matematika sangat sederhana hanya menghitung satu, dua, tiga, maupun yang sampai sangat rumit, misalnya perhitungan antariksa.                                                                     Demikian pula ilmu-ilmu pengetahuan, semuanya sudah mempergunakan matematika, baik matematika sebagai pengembanagn aljabar maupun statistika. Hampir dapat dikatakan bahwa fngsi matematika sama luasnya dengan fungsi bahasa yang berhubungan dengan pengetahuan dan ilmu pengetahuan.

1. Matematika Sebagai Bahasa

Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari serangkaain pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat “artifisial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tampa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati. Dalam hal ini matematika mempunyai sifat yang jelas, spesifik, dan informative dengan tidak menimbulkan konotasi yang bersifat emosional.

2. Matematika Sebagai Sarana Berpikir Deduktif

Matematika merupakan ilmu deduktif. Nama ilmu deduktif diperoleh karena penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi tidak didasari atas pengalaman seperti halnya yang terdapat dalam ilmu empirik, melainkan didasarkan atas deduksi-deduksi (penjabaran-penjabaran) pola berpikir deduktif banyak digunakan baik dalam bidang ilmiah maupun bidang lain yang merupakan proses pengambilan kesimpulan yang didasarkan kepada premis-premis yang kebenarannya telah ditentukan. Misalnya: jika diketahui A termasuk dalam lingkungan B, sedangkan B tidak ada hubungan dengan C, maka A tidak ada hubungan dengan C.

3. Matematika untuk Ilmu Alam dan Ilmu Sosial

Dalam perkembangan ilmu pengetahuan alam matematika memberikan kontribusi yang cukup besar. Kontribusi matematika dalam perkembangan ilmu alam, lebih ditandai dengan penggunaan lambang-lambang bilangan untuk perhitungan dan pengukuran, di samping hal lain seperti bahasa, metode, dan lainnya. Hal ini sesuai dengan objek ilmu alam, yaitu gejala-gejala alam yang dapat diamati dan dilakukan penelaahan yang berulang-ulang. Berbeda dengan ilmu sosial yang memiliki objek penelaahan yang kompleks dan sulit dalam melakukan pengamatan, di samping objek penelaahan yang tak berulang maka kontribusi matematika tidak mengutamakan kepada lambang-lambang bilangan.                                           Adapun ilmu-ilmu sosial dapat ditandai oleh kenyataan bahwa kebanyakan dari masalah yang digadapinya tidak mempunyai pengukuran yang mempergunakan bilangan dan pengertian tentang ruang adalah sama sekali tidak relevan.

C. Statistik

1. Pengertian Statistik

Pada mulanya, kata statistic diartikan sebagai keterangan-keterangan yang dibutuhkan oleh Negara dan berguna bagi Negara.                                                                                      Secara etimologi, kata “statistic” berasal dari kata status (bahasa latin) yang mempunyai persamaan dengan dengan arti kata state (bahasa inggris), yang dalam bahasa Indonesia di terjemahkan dengan Negara. Pada mulanya, kata “statistic” diartikan sebagai “kumpulan bahan keterangan (data), baik yang berwujud angka (data kuantitatif) maupun yang tidak berwujud angka (data kualitatif), yang mempunyai arti penting dan kegunaan yang besar bagi suatu Negara”. Namun pada perkembangannya, arti kata statistic hanya dibatasi pada kumpulan bahan keterangan yang berwujud angka (data kuantitatif saja).                              Dari segi terminologi, dewasa ini istilah statistik terkandung berbagai macam pengertian.                                                                                                                                       Pertama, istilah statistik kadang diberi pengertian sebagai data statistik, yaitu kumpulan bahan keterangan berupa angka atau bilangan.                                                                Kedua, sebagai kegiatan statistik kadang atau kegiatan perstatistikan.                                  Ketiga, kadang juga dimaksudkan sebagai metode statistic yaitu cara-cara tertentu yang perlu ditempuh dalam rangka mengumpulkan, menyusun atau mengatur menyajikan, menganalisis, dan memberikan interpretasi terhadap sekumpulan bahan keterangan yang berupa angkaitu dapat berbicara atau dapat memberikan makna tertentu.

Keempat, istilah statistik dewasa ini juga dapat diberi pengertian sebagai “ilmu statistik”. Ilmu statistik tidak lain adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari dan memperkembangkan secara ilmiah tahap-tahap yang ada dalam kegiatan statistik.                                Jadi statistika merupakan sekumpulan metode untuk membuat keputusan yang bijaksana dalam keadaan yang tidak menentu.

2. Sejarah Perkembangan Statistika

Statistika yang relatif sangat muda dibandingkan dengan matematika berkembang dengan sangat cepat terutama dalam dasawarsa lima puluh tahun belakangan ini. Penelitian ilmiah, baik yang berupa survei maupun eksperimen, dilakukan lebih cermat dan teliti dengan menggunakan teknik-teknik statistika yang diperkembangkan sesuai dengan kebutuhan. Di Indonesia sendiri kegiatan dalam bidang penelitian sangat meningkat, baik kegiatan akademik maupun pengambilan keputusan telah memberikan momentum yang baik untuk pendidikan statistika.

3. Hubungan Antara Sarana Ilmiah Bahasa, Logika, Matematika, dan Statistika

Ditinjau dari pola berpikirnya, maka ilmu merupakan gabungan antara deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu, penalaran ilmiah menyandarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika mempunyai peranan yang sangat penting dalam berpikir deduktif, sedangkan statistika mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif. Jadi keempat sarana ilmiah ini saling berhubungan erat satu sama lain.                                         Bahasa merupakan sarana komunikasi, maka segala sesuatu yang berkaitan erat dengan komunikasi tidak terlepas dari bahasa. Seperti berpikir sistematis dalam menggapai ilmu dan pengetahuan. Dengan kata lain, tanpa mempunyai kemampuan berbahasa, maka seseorang tidak dapat melakukan kegiatan ilmiah secara sistematis dan teratur.                         Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang membuahkan pengetahuan. Agar pengetahuan yang dihasilkan dari penalaran itu mempunyai dasar kebenaran, proses berpikir itu harus dilakukan dengan cara tertentu. Suatu penarikan kesimpulan baru dianggap valid kalau proses penarikan kesimpulan tersebut dilakukan menurut cara tertentu tersebut. Cara penarikan kesimpulan ini disebut logika, di mana logika dapat didefinisikan sebagai “pengkajian untuk berpikir secara sah”. Terdapat bermacam-macam cara penarikan kesimpulan, diantaranya, penarikan kesimpulan dengan cara logika induktif dan logika deduktif. Logika induktif erat hubungannya dengan penarikan kesimpulan dari kasus-kasus individual nyata menjadi kesimpulan umum. Sedangkan logika deduktif membantu kita dalam menarik kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum menjadi khusus yang bersifat individual.                                                                                                                                             Penalaran secara umum dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas untuk menyusun argumentasu yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Sedangkan deduksi adalah cara berpikir di ,mana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus, mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogisme.

4. Tujuan Pengumpulan Data Statistik

Tujuan dari pengumpulan data statistika dapat dibagi ke dalam dua golongan besar, yang secara kasar dapat dirumuskan sebagai tujuan kegiatan praktis dan kegiatan kelimuan. Kedua tujuan sebenarnya tidak mempunyai perbedaan yang hakiki karena kegiatan keilmuan merupakan dasar dari kegiatan praktis. Dalam bidang statistika, perbedaan yang penting dari kedua kegiatan ini dibentuk oleh kenyataan bahwa dalam kegiatan praktis hakikat alternative yang sedang dipertimbangkan telah diketahui, paling tidak secara prinsip, di mana konsekuensi dalam memilih salah satu dari alternative tersebut dapat di exaluasi berdasarkan serangkaian perkembangan yang akan terjadi.

5. Statistika dan Cara Berpikir Induktif

Pengambilan kesimpulan secara induktif menghadapkan kita kepada sebuag permasalahan mengenai banyaknya kasus yang kita hadapi. Dalam hal ini statistikka memberikan jalan keluar untuk dapat menarik kesimpulan yang bersifat umum dengan jalan mengamati hanya sebagian dari populasi yang bersangkutan. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, yakni makin besar contoh yang diambil, maka makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan tersebut.

6. Peranan Statistika dalam Tahap-tahap Metode Keilmuan

Statistika merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahaun. Adapun langkah-langkah yang lazim digunakan dalam kegiatan keilmuan dapat dirinci sebagai berikut:

  1. Observasi. Ilmuawan melakukan observasi mengenai apa yang terjadi, mengumpulakn dan mempelajari fakta yang berhubungan dengan masalah yang sedang diselidikinya. Peranan statistika dalam hal ini, statistika dapat mengemukakan secara terperinci tentang analisis mana yang akan dipakai dalam observasi dan tafsiran apa yang akan dihasilakan dari observasi tersebut.
  2. Hipotesis. Untuk menerangkan fakta yang diobservasi dugaan yang sudah ada dirumuskan dalam sebuah hipotesis, atau teori, yang menggambarkan sebuah pola yang menurut anggapan ditemukan dalam tata tersebut.dalam tahap kedua ini, statistika membantu kita dalam mengklasifikasikan, mengikhtisarkan, dan menyajikan hasil observasi dalam mengembangkan hipotesis.
  3. Ramalan. Dari hipotesis atau teori dikembangkanlah deduksi. Jika teori yang dikemukakan itu memenuhi syarat deduksi akan merupakan sesuatu pengetahuan yang baru, yang belum diketahui sebelumnya secara empiris, tetapi dideduksikan dari teori. Nilai dari suatu teori tergantung dari kemampuan ilmuan yang menghasilkan pengetahuan baru tersebut. Fakta baru ini disebut ramalan, bukan dalam pengertian menuju hari depan, namun menduga apa yang akan terjadi berdasarkan syarat-syarat tertentu.
  4. Pengujian Kebenaran. Ilmuwan lalu mengumpulakan fakta untuk menguji kebenaran ramalan yang dikembangkan dari teori. Mulai dari tahap ini, keseluruhan tahap-tahap sebelumnya berulang seperti sebuah siklus. Dalam tahap ni sebuah hipotesis dianggap teruji kebenarannya jika ramalan yang dihasilkan berupa fakta.

Dalam kegiatan keilmuan yang sebenarnya, keempat langkah ini jalin-menjalin sedemikian eratnya, sehingga sukar untuk menggambarkan perkembangan suatu penyelidikan keilmuan dengan skema yang kaku tersebut.

7. Penerapan Statistika

Statistika diterapkan secara luas dalam hampir semua pengambilan keputusan dalam bidang managemen. Statistika diterapkan dalam penelitian pasar, penelitian produksi, kebijaksanaan penanaman modal, control kualitas, seleksi pegawai, kerangka percobaan industry, ramalan ekonomi, auditing, pemilihan risiko dalam pemberian kredit, dan masih banyak lagi. Singkatnya statistika adalah alat yang dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah yang timbul dalam penelaahan secara empiris hamper disemua bidang.

KESIMPULAN

1. Bahasa sebagai alat komunikasi verbal yang digunakan dalam proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut kepada orang lain, baik pikiran yang berlandaskan logika induktif maupun deduktif.

2. Matematika dalam perkembangan ilmu alam, lebih ditandai dengan penggunaan lambang-lambang bilangan untuk perhitungan dan pengukuran, di samping hal lain seperti bahasa, metode, dan lainnya.

3. Statistika adalah alat yang dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah yang timbul dalam penelaahan secara empiris hampir di semua bidang.

DAFTAR PUSTAKA

Bachtiar, Amsal. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 346,114 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: